Sunday, June 6, 2021

Membaca Imperfect

 “Menulis buku ini membuatku harus membuka kembali banyak luka. Tetapi dengan mengakui luka, aku jadi bisa belajar bagaimana mengatasinya. Juga belajar menjadi lebih kuat lagi.” –Meira Anastasia (Imperfect, 2018)

Ini kalimat di bagian belakang buku berjudul Imperfect karya Meira Anastasia. Meira yang merupakan istri dari seorang public figure bernama Ernest Prakasa sering kali mendapat rundungan daring dari warganet terkait rupa dan fisiknya. Tampaknya, warganet menghakimi bagaimana seharusnya pasangan  yang ideal untuk Ernest, yang konon katanya rupawan, sementara itu penampilan Meira yang dianggap “tidak ideal” menjadi amunisi untuk jari-jari bersenjata netizen yang dilepaskan ke kolom-kolom komentar media sosial.

Sebagai orang yang sering kali mendapat rundungan atas apa yang dapat dilihat dari diri, seperti bagian wajah dan postur tubuh, kalimat yang ditulis Meira seakan-akan menyadarkan saya. Luka atas rundungan tersebut perlu untuk dibuka, meski rasanya akan perih dan sakit, untuk kemudian mengatasinya dan menjadi lebih kuat. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membeli buku ini.

Terlahir sebagai bayi besar dan bertumbuh menjadi apa yang orang-orang bilang bongsor. Berpostur gemuk dan tinggi. Beberapa lainnya bilang gendut atau chubby. Anak-anak yang gendut dan chubby mungkin masih diasosiasikan dengan anak yang sehat dan lucu, sementara saat beranjak remaja konotasi kedua kata ini menjadi negatif. Menjadi rundungan yang selalu terngiang-ngiang di kepala. Kalimat-kalimat basa-basi atau memang sengaja dilontarkan, seperti “Kok gemukan?”, “Tambah gendut ya sekarang?”, “Anak cewek kok gendut banget deh?”, “Gemuk gini gimana bisa dapet pacar?”, “Gendut sih makanya jomlo kan sampe sekarang!” dll. Jleb! Rasanya bingung, marah, kesal, sakit hati, stres, campur aduk banget kalau ada orang yang ngomong seperti itu. Entah sanak saudara dekat maupun jauh (dari sepupu sampe om dan tante), teman, bahkan orang asing.

Apalagi jika masih remaja dulu belum diajarkan bagaimana menerima diri sendiri dengan baik, bagaimana merespon omongan orang yang sebenarnya nggak penting-penting amat dan nggak perlu dipikiran juga dimasukkan ke dalam hati, hingga kampanye-kampanye body positivity pada masa itu belum sebanyak sekarang. Tentu omongan negatif seperti itu bertumpuk dan bertumbuh jadi duri dendam yang melukai hati dan pikiran. Omongan seperti ini tidak hilang oleh waktu, ia hanya terpendam saja. Jika sewaktu-waktu ada hal-hal yang memicunya naik ke permukaan, duri-duri tajam itu kembali menghujam hari-hari yang harusnya sudah baik-baik saja. Mungkin, ini yang disebut bagaimana trauma bekerja.  

Efek lainnya adalah menyalahkan diri sendiri atas tubuh yang enggak ideal dan mulai cari-cari cara untuk menurunkan berat badan (yang malah suka bikin badan sakit karena asal-asalan). Setiap menimbang berat badan selalu insecure angkanya naik, lihat kaca enggak bisa lama-lama karena malu sama diri sendiri, enggak percaya diri tampil di kesempatan dan acara apa pun, bersosialisasi dengan teman pun rasanya ragu-ragu enggak akan diterima karena bentuk tubuh yang berbeda, dan berbagai dampak psikis lainnya. Parahnya, sering kali muncul perasaan tidak pantas. Ini yang bikin rundungan sangat beracun alias toxic!

Konstruksi sosial di mana seorang perempuan harus cantik dan langsing menjadi beban dan tuntutan bagi perempuan-perempuan yang tidak memilikinya. Kondisi setiap orang berbeda-beda, baik perempuan maupun laki-laki, dan tidak semestinya dikonstrusikan, dihakimi atau “dipaksakan” sesuai dengan apa yang katanya “ideal”. Kita enggak pernah tahu apa yang menjadi latar belakang seseorang memiliki bentuk tubuh seperti apa. Tidak hanya bentuk tubuh, begitu juga dengan aspek-aspek kehidupan lainnya. Intinya, kurang-kurangi judge orang hanya dari tampilan luarnya.

Buku dengan sub-judul A Journey to Self-Acceptance ini menceritakan perjalanan seorang ibu beranak dua ini berjibaku dengan komentar-komentar warga di dunia maya maupun di dunia nyata yang kerap membuatnya insecure. Menggunakan bahasa percakapan sehari-hari, Meira membeberkan dengan rinci bagaimana ia menghadapi semua itu. Cukup ringan sehingga mudah dipahami. Dilengkapi dengan ilustrasi menarik bergaya sketsa yang mendukung penggambaran tiap tema tulisan sehingga pembaca tidak bosan dengan rangkaian teks. Buku berjumlah 172 halaman ini tidak hanya menceritakan perjalanan Meira mengatasi luka, namun terdapat bonus stiker berisi kutipan-kutipan dan panduan berolahraga yang dapat dilakukan di rumah.

Berikut beberapa kutipan yang menarik dari buku ini:

“Kadang-kadang, kita memang harus jatuh dulu untuk bisa bangkit, berdiri, dan berlari lebih jauh lagi." (hal. 38)

“Intinya: apa pun yang dikatakan atau dilakukan orang kepada kita, jangan terlalu dimasukkan ke hati.” (hal. 39) 
“Ubah insekyur jadi bersyukur.” (hal. 92) 
“Think it over but don’t over think it.” (hal. 102) 
“Ternyata, mengakui dan menerima ketidaksempurnaan malah bisa menjadi obat ampuh, daripada berusaha menyembunyikannya. Ternyata, aku bisa berkembang setelah menerima ketidaksempurnaanku karena aku tahu aku tidak sempurna, dan itu tidak apa-apa, hidup tetap berjalan seperti biasanya.” (hal. 128)

Buku dengan format hardcover warna peach ini bisa mencerahkan siapa pun yang membutuhkan inspirasi untuk menerima kondisi diri di tengan tuntutan netizen dan konstruksi sosial yang telah ada selama ini. Dari buku ini, dapat dipetik pelajaran bahwa semua hal butuh proses, seperti proses menerima dan proses memperbaiki diri. Proses juga butuh waktu dan pengorbanan yang mudah-mudahan memberikan hasil sesuai harapan.

Oh iya, sebagai informasi tambahan, buku ini telah diadaptasi menjadi film berjudul Imperfect: Karier , Cinta, dan Timbangan yang rilis 19 Desember 2019 lalu. Kini, film yang berhasil menarik perhatian 2,6 juta penonton bioskop sudah tersedia di Netflix.  


Informasi buku

Judul: Imperfect

Penulis: Meira Anastasia

Tahun terbit: 2018

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Desain sampul & ilustrasi isi: Janji Studio

Editor: Wedha Stratesti & Claudia Von Nasution

Fotografer: Rahadyan Kukuh

Saturday, March 27, 2021

Membaca Filosofi Teras

Kata filosofi/filsafat selalu jadi momok yang menakutkan. Rasanya, kata ini mengandung kompleksitas yang selalu sulit untuk saya pahami. Bisa jadi akarnya adalah buku tentang dasar-dasar filsafat Yunani semasa SMA yang saya coba baca. Baru sampai halaman pertama, banyak sekali istilah yang tidak saya mengerti. Saya berusaha membaca sampai halaman ketiga dan tidak paham juga hingga akhirnya saya menyerah. Pada waktu itu, KBBI daring sepertinya belum ada. Buku fisik KBBI pun entah di mana karena di saat yang sama, perpustakaan sekolah saya sedang direnovasi. Ruang perpustakaan dialihkan sementara di sebuah ruangan kecil yang menyebabkan buku bertumpuk tak karuan.

Saya juga punya pengalaman tersendiri dengan buku bertema self-help. Pernah saya membeli dan membaca sampai habis sebuah buku self-help bertema remaja, tetapi entah kenapa tidak merasa buku tersebut bermanfaat buat saya. Setelah saya pikir-pikir sekarang, kondisi sosial yang diceritakan penulis sepertinya berbeda dengan kondisi saya pada waktu itu. Saya hanya seorang pelajar yang tumbuh di wilayah pinggiran, bukan kelas menengah yang hidup di wilayah urban.

Dua pengalaman itulah yang menjauhkan saya dari buku-buku bertema filsafat dan self-help. Saya lebih banyak berkutat di buku-buku sastra dan topik-topik yang saya minati lainnya.

Belakangan, isu-isu tentang mental health kian merebak. Membaca buku self-help kian wajar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun di mana punya masalah kesehatan mental dianggap tabu, atau bahkan pengidapnya sering kali dianggap punya gangguan kejiwaan serius.

Berangkat dari situ, saya mulai tergerak untuk membaca artikel-artikel tentang kesehatan mental dan di suatu waktu terpapar dengan buku karya Henry Manampiring ini. Buku tersebut berjudul Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini. Bersampul dominan warna putih dengan ilustrasi yang terbilang jenaka untuk sebuah buku filsafat yang sering kali kaku dan serius. Ditambah nuansa warna kuning yang segar berpadu dengan warna hijau toska di font judul buku.

Judul dan ilustrasi sampulnya memikat siapa saja yang awam terhadap filsafat, termasuk saya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membeli buku tersebut.

Di dunia yang serba gegas ini, kecemasan-kecemasan tidak hanya semakin meningkat, tetapi semakin bervariasi jenisnya. Perasaan insecure dan anxiety seolah jadi makanan sehari-hari. Jika tidak punya cukup bekal mental untuk menghadapinya, berpotensi membuat kondisi kesehatan mental seseorang semakin terpuruk.

Membaca Filosofi Teras menyadarkan saya akan banyak hal. Membedah hal-hal yang selama ini mengacaukan pikiran dalam 320 halaman yang terdiri dari 12 bab. Menggunakan bahasa sederhana—bahkan bisa dibilang bahasa percakapan sehari-hari, dan tentunya dilengkapi dengan ilustrasi dan tata letak yang memikat. Membuat saya melahap buku ini dengan cepat dan sampai harus memperlambat ritme baca agar bisa meresap dengan baik sari-sarinya.

Filosofi Teras atau biasa disebut Stoisisme merupakan filsafat yang praktikal sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aliran filsafat ini diinisiasi oleh Zeno, seorang pedagang kaya yang dari Siprus (sebuah pulau di Selatan Turki) yang dalam perjalanannya mengalami nasib malang. Kapalnya karam dan barang dagangannya musnah. Ia terdampar di Athena tanpa harta. Ia belajar filsafat dari filsuf Crates dan berbagai filsuf lainnya. Selanjutnya, ia mengajar filosofinya sendiri di sebuah teras berpilar, yang dalam bahasa Yunani disebut stoa, yang terletak di sisi utara dari agora (tempat publik yang digunakan untuk berdagang dan berkumpul). (hal. 22)

Henry Manampiring membagi dua tujuan utama yang ingin dicapai dari Stoisisme, yaitu:

  1. Hidup bebas dari emosi negatif dan mendapatkan hidup yang tenteram (tranquil). Ketenteraman ini hanya bisa diperoleh dengan memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa kita kendalikan.
  2. Hidup mengasah kebajikan (virtues). Berikut empat kebajikan utama menurut Stoisisme:
    • Kebijaksanaan (wisdom): kemampuan mengambil keputusan terbaik di dalam situasi apa pun.
    • Keadilan (justice): memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur.
    • Keberanian (courage): keberanian berbuat yang benar, berani berpegang pada prinsip yang benar.
    • Menahan diri (temperance): disiplin, kesederhanaan, kepantasan, dan kontrol diri (atas nafsu dan emosi). (hal 2425).
Bab-bab selanjutnya dalam buku ini membedah lebih detail fenomena-fenomena dalam kehidupan masa kini yang relevan dengan ajaran Stoic. Apa yang bisa kendalikan, bagaimana menyikapi, bagaimana memproses suatu peristiwa, bahkan memproses sebuah peristiwa yang menakutkan bagi umat manusia—kematian. Menarik bukan?

Buku Filosofi Teras ini telah memperluas cakrawala berpikir saya bahwa filsafat tidak melulu sesuatu yang kompleks dan buku self-help tidak selalu tidak akan relevan. Melalui buku ini, saya menjadi banyak belajar mengenal apa yang ada di dalam diri dan bagaimana merespon hal-hal yang terjadi dalam kehidupan.

Apa ada yang sudah pernah membaca buku ini? Bagaimana pendapat kalian tentang buku ini? 

Thursday, February 18, 2021

Sabtu Sore

Sehari sebelum hari kasih sayang
Saya berikan waktu untuk yang tersayang
Yaitu diri saya sendiri

Meluangkan waktu untuk diri sendiri atau biasa disebut quality time. Sabtu sore itu, saya berjalan kaki ke kedai kopi terdekat. Awalnya, ingin pesan daring es kopi susu gula aren terlaris, tapi karena ongkirnya bisa buat segelas kopi lagi membuat saya mencari alternatif yang lain. 

Setelah dipikir-pikir, radius 2 km dari tempat tinggal terdapat beberapa kedai kopi. Sebelum pandemi, beberapa sudah pernah saya kunjungi. Daripada suntuk, saya pun ganti baju dan memakai sepatu. Tidak lupa kardigan, topi, dan masker. Agak repot memang kalau mau bepergian sekarang ini.

Hari cerah dan matahari bersinar seperti pukul tiga. Padahal, jarum panjang menunjukkan pukul lima. Selama berjalan kaki, rasanya seperti berebut ruang dengan para pengendara di jalanan. Rute ke kedai kopi incaran saya tidak ada trotoar.

Sekitar lima belas menit, saya sampai tujuan. Kedai kopi itu berada di kompleks niaga dengan banyak penjaja minuman dan makanan lainnya serta sebuah taman tersembunyi di bagian belakang. Toko kopi sedang sepi. Sepasang suami istri usia 40-an hendak pergi ketika saya datang, di atas ada tiga orang remaja. Di luar dekat bar, hanya ada dua orang. Saya memesan dan minum es kopi susu gula aren segar tersebut di kursi yang menghadap jalan. Area ini kosong, hanya ada saya dan buku yang saya bawa. Kendaraan lalu lalang menjadi pemandangan saya setelah kursi dan meja kosong serta pepohonan rindang di antaranya. Baru saja membuka halaman buku, terdengar hingar bingar musik dangdut. Meski sudah memakai earphone, musik tersebut masih terdengar jelas. Rombongan orkes dador atau dangdut dorong sedang melintas. Ah, pantas saja. 

Saya membiarkan mereka berlalu. Helai dedaunan bergerak-gerak tertiup angin sore. Langit tampak masih biru. Satu dua orang melintas menuju taman. Semua memakai masker. Ini kali pertama saya minum kopi langsung di kedai kopi di tahun ini. Biasanya saat sebelum pandemi, saya ke tempat ini selalu memilih area dalam untuk menghindari asap rokok. Kali ini, berbeda. Sengaja memilih area terbuka yang untungnya sedang sepi pengunjung. 

Saya begitu menikmati membaca kisah kasih monyet bernama O yang dikisahkan oleh Eka Kurniawan. Beberapa lembar terlewati tanpa terasa, hari kian meredup. Saya hendak pulang, namun memutuskan untuk melihat sisi lain di area ini sebentar. Meskipun sudah beberapa kali ke kedai kopi ini, berkeliling ke area lain malah saya belum pernah. Penasaran juga. 

Ada yang menjual tanaman. Makanan Jepang. Minuman campuran susu. Kebab, burger, sampai tahu krispi. Bangunan niaga ini kurang lebih membentuk setengah lingkaran yang mengelilingi sebuah taman kecil. Taman dengan rerumputan hijau beserta beberapa pohon yang di sisi sebrang bangunan. Tampak sebidang tanah yang lebih tinggi dengan sebuah ayunan dengan rangka besi warna merah yang terlihat kokoh. Warna yang membuatnya mencolok di tengah ruang terbuka hijau. Dua kursi ayunan kosong. Saya melihat sekeliling hanya ada dua orang lawan jenis sedang berbincang di taman dan lainnya sedang menikmati makanan atau minuman dari dalam kedai-kedai makanan. 

Ingin hati rasanya main di ayunan tersebut. Agak ragu karena malu dilihat banyak orang, tetapi di sisi lain nggak ada yang kenal saya juga ya di sana? Lagi pula, saya juga pakai masker dan topi. Aman. Tidak ada salahnya bermain ayunan. Nggak cuma anak kecil yang bisa bermain-main dengan ayunan. 

Saya berpikir-pikir kenapa saya ragu untuk mencoba. Ternyata, karena di taman dekat tempat tinggal saja ada ayunan dan beberapa permainan lain yang dikhususkan untuk anak-anak. Padahal, jika sedang mampir ke sana saat berkeliling kompleks, saya ingin sekali mencobanya. 

Akhirnya, saya bisa main ayunan yang mungkin boleh diduduki orang dewasa. Di sekeliling taman tidak ada permainan anak-anak lainnya. Jadi, saya pun memberanikan diri duduk dan pelan-pelan mengayun-ayunkan dirimasih dengan perasaan malu-malu dan takut. Hahaha. Cupu sekali saya ini!

Saya bermain ayunan beberapa menit sembari mendengarkan lagu-lagu dari ponsel. Rasanya nyaman sekali. Pikiran saya melambung ke hari-hari semasa kanak-kanak. Bermain dengan riang gembira tanpa banyak rasa khawatir. Tanpa cemas berlebihan. Benar-benar memetik hari—carpe diem. Perasaan yang sepertinya jarang untuk bisa dirasakan sewaktu dewasa kini. Kebanyakan memikirkan yang lalu dan nanti, dan lupa menikmati yang benar-benar sedang terjadi.

Hari semakin gelap dan saya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk kembali ke tempat tinggal. Maksud hati mau berlama-lama, namun hari sudah terlalu sore. Mungkin, kali lain datang ke sini bisa lebih siang sehingga sehabis minum kopi bisa lanjut main ayunan lebih lama lagi.   

Friday, January 29, 2021

Alasan untuk Tetap Hidup dari Matt Haig


 
Apakah hidup perlu alasan?

Matt Haig mencoba menjawabnya lewat karya Reasons to Stay Alive atau jika diterjemahkan sebagai Alasan untuk Tetap Hidup. Sebuah buku dengan deskripsi "Kisah Nyata Melawan Depresi dan Berdamai dengan Diri Sendiri". 

Ada pernyataan menarik dari penulis mengenai depresi yang sulit dipahami oleh banyak orang karena gejalanya yang samar, tak nyata seperti penyakit fisik yang terlihat dan mudah dideteksi. Pada sebuah halaman di pertengahan buku ia menulis: 

"Sulit menjelaskan depresi kepada orang-orang yang belum pernah mengalaminya.
Rasanya seperti menjelaskan kehidupan di bumi kepada makhluk asing. Tidak ada yang bisa dijadikan titik acuan. Anda terpaksa menggunakan perumpamaan.
Bagai terjebak di terowongan.
Bagai berada di dasar laut.
Bagai terbakar." (hal. 134). 

Buku ini terdiri dari lima bab, yaitu 1) Jatuh, 2) Mendarat, 3) Bangkit, 4) Menjalani Hidup, dan 5) Menjadi Bagian dari Kehidupan. Dalam setiap bab terpecah menjadi tulisan-tulisan pendek yang mudah dibaca, namun berat untuk diresapi. Terlebih jika beberapa bagiannya pernah dialami. 

Membaca bab awal buku ini seperti diajak berjalan-jalan dalam lorong gelap. Langkah yang pelan sekaligus waspada sembari memicingkan mata. Nyala cahaya hanya dari sebuah lilin kecil yang temaram.

Pengalaman kelam diceritakan dengan rinci. Hal-hal yang mungkin bagi orang "normal" dianggap biasa, namun bagi penderita depresi adalah sebuah hal yang butuh keberanian besar. Matt Haig menceritakan bagaimana perjuangannya berbelanja ke sebuah toko dekat rumah. Aktivitas yang sederhana untuk banyak orang tanpa perlu banyak pemikiran. Sementara itu, ia harus berjibaku dengan kecamuk perasaannya saat harus ke luar rumah, dengan ketakutan-ketakutan akan hal-hal buruk yang akan terjadi, kecemasan-kecemasan yang sulit untuk ia atasi pada waktu itu. 

Jumlah penanda yang saya sematkan di buku ini berjumlah tiga puluh. Menjadi buku dengan penanda terbanyak sejauh ini dari buku-buku yang pernah saya baca. Banyak hal-hal yang relevan dan reflektif. Saya terpukau dengan bagaimana Matt Haig menjelaskan depresi dengan cara yang terbilang sederhana. Dengan kata-kata yang sering dipakai, ia menggambarkan kompleksitas penyakit mental ini selapis demi selapis. Pandangan masyarakat yang sering salah kaprah terhadap kondisi ini ia coba luruskan. Beberapa kali ia mengutip data, hasil penelitian, atau tokoh-tokoh untuk mendukung argumentasinya tersebut. 

"Depresi itu misterius, bahkan bagi para penderitanya." (hal 17)

Akan tetapi, depresi juga punya gejala. Andai saja kita tahu lebih awal daftar gejala-gejala depresi, mungkin kita akan lebih mudah mengenalinya. Sayangnya tidak. Gejala depresi sering dianggap hal biasa yang bisa berlalu begitu saja atau dengan menanamkan "pikiran positif" dan hal-hal "motivasional". Ketika tidak ditangani dengan tepat atau malah jauh terlambat, maka akan menyimpan bara yang sewaktu-waktu bisa terbakar hebat. Lebih lanjut di bagian tengah buku ia menjelaskan: 

"Depresi itu penyakit. Tapi, depresi tidak diawali dengan gejala gatal atau batuk-batuk. Depresi sulit terdeteksi karena tidak kasatmata. Meskipun depresi merupakan penyakit serius, cukup sulit bagi penderita untuk mengenali gejala awalnya. Bukan karena depresi itu tidak terasa--tapi karena perasaan tidak enak itu terlalu dikenali, atau biasanya bercampur aduk dengan hal-hal lain." (hal. 94)

Selanjutnya, ia menyebutkan beberapa gejala yang sering muncul pada penderita depresi, seperti kelelahan dalam jangka waktu yang lama tanpa alasan yang jelas, konsep diri yang buruk, "kelambanan psikomotorik", kehilangan selera makan, mudah marah, sering sekali menangis, tiba-tiba menutup diri, dan anhedonia. Istilah yang terakhir rasanya sangat dekat sekali dengan saya. Sering saya rasakan tanpa mengetahui apa namanya. Dipaparkan bahwa anhedonia adalah gejala utama depresi dengan ketidakmampuan total untuk merasakan senang saat melakukan apa saja. Berat rasanya menuliskan hal ini. 

Di halaman lainnya, Matt Haig mengatakan bahwa: 

"Orang bilang kegilaan adalah respons logis untuk dunia yang gila. Mungkin depresi hanyalah respons kehidupan yang tidak benar-benar kita pahami. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami kehidupannya. Depresi sangat mengganggu karena membuat kita tidak bisa berhenti memikirkan kehidupan. Depresi mengubah kita semua menjadi pemikir. Tanya saja Abraham Lincoln." (hal. 173) 

Alasan-alasan untuk hidup yang ia kemukakan berjumlah sepuluh, tiga di antaranya terngiang-ngiang di kepala saya, yaitu nomor 6, 8, dan bagian akhir nomor 10. 

"6. Benak kita memiliki sistem cuaca sendiri. Anda berada di tengan angin topan. Angin topan juga lama-lama akan kehabisan energi. Bertahanlah.

8. Tidak ada yang berlangsung selamanya. Penderitaan ini tidak menetap. Penderitaan berkata ia akan menetap. Itu bohong. Abaikan saja. Penderitaan adalah utang yang akan dibayar dengan waktu. 

10. ... Mungkin Anda akan terperangkap sebentar di sini, tapi dunia tidak akan ke mana-mana. Bertahanlah kalau Anda bisa. Hidup ini selalu layak dipertahankan." (hal. 121-122)." 

Bisa bertahan sejauh ini adalah sebuah pencapaian. Sehari demi sehari adalah sebuah perjuangan tersendiri.

Kalau kamu, apa yang menjadi alasan untuk tetap hidup?


Wednesday, December 9, 2020

Inti

Sadari 
Kenali emosi  
Temukan masalah inti  
'Tuk cari solusi


Pertemuan dengan teman-teman yang usianya seangkatan memang memberikan kesan tersendiri. Nostalgia yang manis, canda tawa yang akrab, dan obrolan yang hangat. Akan tetapi, di balik itu semua ada alam bawah sadar yang menyesatkan ke sebuah labirin bernama inferioritas. 

Berbagi kabar terbaru kehidupan kami masing-masing. Setiap orang dengan ceritanya, dengan jalan hidupnya. Ada yang sudah berpasangan, ada yang akan menikah, ada yang masih sendiri. Ada yang jalan karirnya mulus, ada yang masih meniti pelan-pelan dan pasti, ada yang masih bimbang mau berkarir sebagai apa dan di mana. Ada yang gajinya dua digit, ada yang sudah punya kendaraan pribadi, ada yang sudah berinvestasi, ada yang tidak punya semuanya. 

Dari semua yang disebutkan, bagian akhir kalimat selalu menjadi bagian saya. Mendengar kabar mereka sudah sampai titik tersebut, selain senang muncul rasa sedih. Saya merasa ada di belakang.

Saya pikir sedih itu hanya berlangsung sesaat ketika obrolan berlangsung. 

Dua hari berlalu dari pertemuan tersebut. Perasaan itu masih menggantung dan bercampur dengan kecemasan yang lain. Hari-hari setelah pertemuan terasa berat dan sangat mengganggu. Saya kira ini rasa cemas karena kami bertemu di tengah pandemi begini. Kami memakai masker dan membukanya saat makan dan minum. Meski sudah mematuhi protokol, kuatir tetap ada. Awalnya, saya pikir kekuatiran berlebih dan mengganggu diakibatkan oleh hal tersebut. Ditambah dengan tumpukan pekerjaan yang belum kunjung diselesaikan.

Banyak cara saya lakukan agar lebih tenang. Saya mencoba dengan mandi air hangat, menonton tayangan yang jenaka, mendengar lagu-lagu bernuansa ceria, melakukan praktik teknik pernafasan, mengubah perspektif berpikir hingga butterfly hug. Mood membaik sementara saja, efeknya begitu singkat. Setelah beberapa menit, dada masih berdebar tak karuan. Susah fokus. Pikiran semrawut seperti benang kusut. 

Saya memutuskan untuk melakukan yoga berdasarkan tutorial di Youtube. Video tutorial untuk pemula dengan tujuan mengurangi kecemasan dan depresi ini sudah beberapa kali saya coba. Biasanya, cukup mudah. Tiga puluh menit mulus tanpa jeda. Kali ini terasa begitu berat. Beberapa kali saya berhenti untuk istirahat sebentar. 

Emosi-emosi mengalir sepanjang latihan. Di tengah-tengah, sebuah kesadaran muncul. Saya berhenti cukup lama. Mencoba menelaah kesadaran tersebut, melakukan dialog dengan diri sendiri, berproses untuk memperbaiki apa yang telah mengganggu beberapa hari ini. 

Ternyata yang alasan dominan bukan pandemi atau pekerjaan, melainkan rasa inferior. Pertanyaan-pertanyaan yang menghakimi tanpa mau memahami konteks. Pertanyaan yang saya buat sendiri, bahkan bukan datang dari teman-teman saya. Mempertanyakan kenapa saya masih sendiri, gaji masih segini, dan karir yang belum jelas juntrungannya. 

Saya kemudian teringat kembali bahwa setiap orang punya lintasan waktunya masing-masing. Hal ini yang sering saya lupakan. Membandingkan kondisi hidup tidak akan ada ujungnya. Apalagi jika membandingkan dengan menengok ke atas. Terlalu banyak menengadah hanya akan bikin lelah. 

Setiap orang punya jalan hidupnya sendiri. Di mana dan bagaimana ia lahir dan tumbuh, akan menentukan kehidupannya kelak. Bagaimana kemudian ia berproses, melalui fase yang berbeda-beda. Pengalaman dan pengambilan-pengambilan keputusan setiap kita juga berbeda, bagaimana bisa ingin hasil yang kurang lebih sama? Kenapa harus sama atau "sesuai standar" (standar yang mana)?  

Saat narasi dan pertanyaan ini mencuat, rasa "berat" perlahan-lahan menghilang. Saya melanjutkan yoga sampai selesai. Ada perasaan lebih tenang dan lega. Seketika saya terlelap sehabis latihan. Terbangun dengan perasaan yang lebih baik dan lebih ringan.

Monday, September 21, 2020

Tersadar oleh Sampar

DI ISTANA 

WALIKOTA PERTAMA: Yang Mulia, sampar menyebar sangat cepat sehingga kita tidak punya harapan untuk membasminya. Kontaminasi sudah sangat merebak dibanding yang diperkirakan; namun hamba menyarankan kiranya lebih bijaksana untuk membuat mereka tidak mempedulikannya. Bagaimanapun juga daerah-daerah terpencil  paling parah terkena dampaknya; daerah-daerah ini padat dan dihuni orang-orang miskin. Betapapun tragisnya keadaan ini, ini adalah sesuatu yang patut disyukuri. 

[Gumaman tanda setuju.]

- Albert Camus 

Baris-baris kalimat di atas merupakan cuplikan adegan dan dialog dari drama tiga babak berjudul Sampar. Dipentaskan pertama kali pada 27 Oktober 1948 di Thèâtre Marigny, Paris. L'état de Siège (State of Siege) adalah judul asli lakon yang ditulis oleh filsuf Albert Camus. 

Saya awalnya tidak tahu menahu bahwa buku ini berisi naskah drama. Nama Albert Camus yang sering muncul di beberapa artikel yang saya baca sebelum-sebelumnya membuat saya penasaran dengan tulisan asli beliau. Kebetulan sekali, ada kawan yang meminjamkan Sampar kepada saya sekitar setahun lalu, bersama belasan buku lainnya. Lebih dari sepuluh buku yang dipinjamkan telah saya baca sejak itu sampai sekitar Juli tahun ini. Entah mengapa, Sampar tidak termasuk di sepuluh nomor tersebut. Baru pada penghujung Juli, saya mulai melirik buku setebal 130 halaman ini. 

Pandemi masih berlangsung. Rumah sakit mulai kewalahan menerima pasien, pemakaman khusus korban wabah kian kehabisan lahan. Apa yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi ini? 

Semasa pandemi awal merebak, hari-hari terasa mencekam. Sekarang, setengah tahun berlalu. Waspada tetap ada, namun ketakutan perlahan-lahan mereda. Kemudian, membaca Sampar kembali membangkitkan hawa mencekam itu. 

Sampar menceritakan wabah yang menjangkiti warga Cádiz, Spanyol. Selain digambarkan sebagai sebuah penyakit mematikan yang memberikan tanda, penulis merepresentasikan Sampar sebagai manusia yang mengambil alih kekuasaan pemerintah. Mengubah tatanan masyarakat dengan kehendak yang telah direncanakannya. Menyingkirkan pihak-pihak yang menghalangi perubahan yang diinginkannya. 

Membaca buku ini seperti memutar ulang masa-masa awal wabah menyebar di negeri ini, bahkan di seluruh dunia. Sebuah pandemi yang kini masih harus kita hadapi. Saat membaca, kengerian akibat wabah sampar seolah terasa begitu dekat dan nyata. Respon dan kebijakan pemerintah dalam naskah yang entah bagaimana tampak serupa dengan kondisi saat ini. Sebuah kebetulan. 

Ada banyak adegan dan tuturan yang menampar dengan keras. Reflektif sekaligus satir. Menggedor kesadaran manusia yang carut marut terjangkiti ketakutan. Harapan akan keadaan kembali seperti sedia kala terasa begitu jauh dari kenyataan.

Perlu berjarak saat membaca buku ini supaya tidak terlalu terhanyut, apalagi di tengah pandemi seperti ini. Ia begitu gelap, dan jika tak membawa pelita pikiran yang jernih, berisiko tersesat dalam jalan-jalan yang suram dan muram.

 

Berikut beberapa kutipan pilihan dari buku ini: 

"HAKIM: Biarkan mereka, dan pikirkan saja rumah tangga. Tentang putramu, misalnya. Masukkan semua perbekalan yang dapat diperoleh, dan jangan pikirkan harganya. Kini, sudah saatnya untuk menimbun. Lakukan penimbunan!" (hal. 28) 

"DIEGO: Aku merasa seperti orang-orang, asing terhadap diriku sendiri. Selama ini, aku tidak pernah merasa takut terhadap manusia--namun apa yang terjadi sekarang terlalu besar bagiku. Bahkan kehormatan tidak dapat membantu; aku kehilangan pegangan atas segala sesuatu yang aku anut." (hal. 30)

"SEKRETARIS: Ini dimaksudkan untuk membiasakan mereka dengan sentuhan kekaburan yang memberikan daya tarik dan efektivitas bagi semua peraturan pemerintah. Semakin kurang paham rakyat, akan semakin baik tingkah laku mereka. Kamu paham?" (hal. 39)

"PADUAN SUARA: Penguasa kita dulu berjanji akan melindungi kita, namun sekarang kita ditelantarkan." (hal. 40)

"PADUAN SUARA PEREMPUAN: ... Penderitaan ini lebih berat dari yang dapat kami tanggung, kami hanya dapat menunggu penderitaan ini berakhir." (hal. 83)

"PADUAN SUARA: Ya, namun apakah harapan menunggu kita di ujung jalan? Atau haruskah kita mati karena putus asa di tengah perjalanan? 

DIEGO: Jangan lagi bicara tentang putus asa! Putus asa adalah sumbat. Dan hari ini guntur harapan dan kilat kebahagiaan memecahkan kebisuan kota yang terkurung ini. Berdirilah, kuminta kamu, dan bertindaklah seperti lelaki! Robeklah aktamu, pecahkan jendela-jendela kantor mereka, tinggalkan ketakutan, dan teriakkan kebebasan kalian ke empat arah angin surga!

PADUAN SUARA: Kami kehilangan hak milik rumah kami dan harapan adalah satu-satunya kekayaan kami--bagaimana kami bisa hidup tanpa harapan?" (hal. 96)


Judul: Sampar 

Penulis: Albert Camus

Penerjemah: Ahmad Asnawi

Penerbit: Narasi (bekerja sama dengan Pustaka Promethea)

Friday, August 14, 2020

Kata-Kata Si Beruang Kutub

Kau perlu menjaga pikiranmu tetap waspada dan berupaya membuka hati kepada mereka di sekelilingmu untuk melihat ribuan nuansa yang menyusun dunia manusia yang senantiasa berubah ini.

Semakin aku memikirkan semua ini, semakin aku yakin betapa luar biasanya untuk bisa hidup itu, bahkan di penjara sekalipun, sebab tak seorang pun bisa merampas kapasitas kita untuk melihat, berpikir, dan bermain. 

- Claudio Orrego Vicuña

Pada sebuah sore di tempat kerja, saya ingat betul ketika diminta untuk memeriksa glosarium sebuah buku. Buku yang akan saya periksa berada di rak buku yang bercampur dengan koleksi pribadi atasan saya. Ketika sedang mencari-cari, saya dipertemukan dengan buku berukuran kecil, berhalaman tipis, dan bersampul gambar wajah beruang kutub yang menyiratkan raut muram. Seketika saya tertarik dengan buku kecil tersebut yang berjudul Kenangan-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub. Ditulis oleh Claudio Orrego Vicuña (1939-1982) yang merupakan sosiolog, peneliti sejarah, penulis, dan aktivis mahasiswa serta bertindak sebagai politisi dan anggota parlemen dari Partai Kristen Demokrat Cile semasa hidupnya. Buku ini adalah satu-satunya karya sastra beliau di antara puluhan buku lainnya. 

Setelah mendapatkan buku yang harus saya periksa, saya minta izin kepada atasan untuk meminjam novel setebal 68 halaman ini. Kumpulan kata ini tidak langsung saya baca karena masuk daftar antrian di antara buku-buku lainnya. Setelah datang gilirannya, ia menjadi kawan yang baik selepas pulang kerja. Menemani dengan rangkaian kalimatnya yang mengingatkan dengan caranya sendiri. Bercerita melalui sudut pandang seekor beruang kutub yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di kebun binatang. Bagaimana ia awalnya mempertanyakan jalan hidup yang semestinya bebas merdeka di padang es arktik, namun harus berakhir di sepetak lahan berjeruji untuk menjadi tontonan manusia. 

Betapa penulis begitu piawai menuturkan suara hati beruang kutub dari gerutu hingga menjadi sebuah kontemplasi yang menyadarkan akan banyak hal. Memberikan makna-makna baru pada hal-hal yang kerap terlewatkan. Menjadi sebuah bacaan yang mencerahkan saat-saat pandemi ini, saat banyak dari umat manusia terperangkap situasi tidak bisa ke mana-mana. Ketakutan, kekhawatiran, dan kesepian seolah tak terelakkan. Beruang kutub yang diberi nama Baltazar ini membagikan pemikiran-pemikirannya, tentang hal-hal kecil sampai yang besar dengan begitu sederhana dan penuh ketulusan. 

Buku pinjaman harus dikembalikan dan oleh karena itu saya akan kesulitan jika ingin menengok kembali kalimat-kalimat yang saya suka. Untuk mempermudah, saya tulis di sini bagian-bagian favorit saya.   

"Aku berubah selamanya menjadi makhluk yang kesepian, dikutuk untuk hidup hanya dengan ditemani pikiran dan nostalgia..." (hal. 14)

"Mengapa ada manusia-manusia yang punya apa saja dan manusia lainnya yang tidak punya apa-apa? Mengapa ada wajah-wajah yang mencerminkan kegembiraan hidup, sementara lainnya kelihatan hanya mendambakan perubahan nasib?" (hal. 19)

"Sepertinya perangainya sudah jamak di kalangan manusia yang diberi kekuasaan. Begitu mereka mendapat kuasa, rasa percaya diri mereka muncul lebih dikarenakan oleh kekuasaan ini ketimbang oleh nilai-nilai dalam diri mereka sendiri.
Aku juga berpikir bahwa semakin tidak bahagia manusia, semakin doyan mereka berlagak memamerkan kekuasaan."
(hal. 25)

"Sepertinya pembawaan alamiah kita memang mengharuskan, sesekali dalam suatu waktu, kesempatan untuk bisa sendirian, tanpa merisaukan apa pun, absen dari dunia sekitar kita." (hal. 29).

"Awalnya aku sangat menderita, dan kenangan akan cintaku yang tak kesampaian membuat penangkapanku jadi kian tak tertanggungkan.
Sekarang situasi sudah berbeda. Waktu menghapus segalanya, dan apa yang menjadi hasrat dan nyala hari kemarin, pada hari ini tak lebih dari ketidakpastian apakah itu nyata atau hanya khayalan anak remaja.
Dari apa yang kulihat dan kupelajari aku memupuk kearifan dan kesabaran, dan kini aku mendambakan kebebasan untuk alasan-alasan lainnya. Tak ada lagi yang bersisa dari cinta lamaku, kecuali ingatan peninggalan sang waktu yang membersitkan senyum, serta gambaran indah dari apa yang mungkin terjadi tapi tidak terjadi.
Toh hal-hal indah dalam hidup tetap menyegarkan meski waktu terus berlalu. Semakin jauh, dan semakin mustahil dijangkau, semakin pula melebur ke dalam aura sentimentil atas segala hal dari masa silam kita, suatu kearifan nostalgis tentang kehidupan.
(hal. 37)

Coba pikir, kau jelas bukan cuma mengalami satu perasaan saja dalam sehari. Juga bukan satu suasana hati saja. Hidup, yang mengejawantah dalam setiap momen, tidak membiarkan kita mengelak darinya segampang itu." (hal. 47)

"Aku tidak pernah bilang bahwa aku pasrah berpuas diri dengan kehidupan di balik jeruji. Lagi pula, Tuhan para beruang tidak mencipta kami untuk itu, melainkan untuk menikmati kebebasan tak terbatas es arktik. Kendati demikian, pada akhirnya aku bisa menemukan kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah kusangka akan bisa kutemukan.
Bukan karena aku merasa demikian. Melainkan karena tak seorang pun yang mau berpasrah menyia-nyiakan hidupnya, terlepas dari duka dan tragedi tak terduga yang menimpa jalan hidupnya."
(hal. 54)
 
 
"Untuk menjadi bebas tidaklah cukup dengan hanya bisa bergerak di atas dunia ini atau di antara orang-orangnya. Bebas bergerak hanyalah sarana untuk menemukan makna yang lebih dalam dari hal ihwal. Tapi itu sendiri belum berarti apa-apa.
Kehidupan sehari-hari gelandangan atau turis sama sekali bukan kebebasan. Kebebasan hanya berasal dari pengertian yang lebih dalam atas tanah-tanah baru, realitas-realitas baru dan orang-orang yang baru ditemui.

Itulah yang menjelaskan mengapa meskipun aku dikerangkeng, aku merasa kebebasanku bertumbuh. Memang masih bolong-bolong dan tak sempurna, tapi setiap hari lebih baik dibanding manusia-manusia di sekelilingku."
(hal. 62) 

 

Judul: Kenangan-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub 

Penulis: Claudio Orrego Vicuñ

Penerjemah: Ronny Agustinus 

Penerbit: Marjin Kiri