Sunday, August 8, 2021

Pengalaman Memilih Kamar Kos

Masih segar di ingatan susahnya mencari kos-kosan ketika mau masuk kuliah. Banyak kamar kos yang sudah penuh. Sekalinya ada yang kosong, ada saja yang hal-hal yang kurang cocok.

Ada banyak pertimbangan saat memilih kamar kos. Dari luas ruangan, fasilitas kamar, harga, dan lingkungan kos. Malang melintang menjadi anak kos selama dua belas tahun terakhir, ada beberapa pengalaman yang bisa dibagikan dalam memilih kamar kos. Ini dia beberapa aspek yang sering disoroti. 

Lokasi kos

Memilih kos yang dekat kampus atau tempat kerja tentu menjadi pilihan utama. Akan tetapi, lokasi kos yang strategis ini berbanding lurus dengan biaya sewa. Semakin strategis sebuah kos, biasanya semakin mahal biaya sewanya. Pilihlah lokasi kos yang tidak terlalu dekat, tetapi aksesnya cukup mudah. Misalnya, ada angkutan umum seperti angkot atau bus dengan jarak serta durasi tempuh yang bisa ditoleransi. Jika ada kendaraan pribadi, akan lebih baik lagi. Perjalanan pergi dan pulang 15 sampai 30 menit masih cukup bisa diterima. Atau berjalan kaki sekitar 10 sampai 15 menit juga opsi yang bisa dipertimbangkan. Selain berhemat, bisa bikin badan sehat juga karena sekalian olahraga.

Luas ruangan

Perhatikan luas kamar dan kapasitas barang pribadi yang kita miliki. Jika tak bawa banyak barang, kamar kecil yang nyaman pun bisa kita ambil. Nah, sayangnya, rumah orangtua sering kebanjiran jika hujan lebat tiba sehingga banyak sekali barang pribadi yang disimpan di kamar kos. Saya sendiri lebih memilih kamar kos dengan ruangan yang cukup luas untuk menampung barang-barang pribadi saya. Kalau hanya butuh kamar untuk istirahat saja karena banyak waktu dihabiskan di kampus atau kantor, ruangan dengan kasur yang nyaman bisa jadi pilihan.

Ventilasi kamar

Pilih kamar dengan jendela dan ventilasi udara yang memadai. Untuk kamar kos non-AC, hal ini sangat penting sebagai pertukaran udara dari dalam ke luar kamar. Ruangan dengan ventilasi yang minim akan terasa pengap dan lembap. Tentu nantinya akan terasa tidak nyaman. Kipas angin sekuat apa pun mungkin tidak bisa mengusir gerah saat siang atau pengap malam hari. Bayangkan kalau tiba-tiba mati listrik dalam waktu yang lama, bisa-bisa berkeringat terus kalau ventilasinya minim.

Fasilitas

Fasilitas mungkin bisa dibagi menjadi dua, yaitu internal kamar dan eksternal. Fasilitas internal kamar dapat berupa perlengkapan kamar, seperti kasur, lemari, meja belajar, dan kursi. Kipas angin, pendingin ruangan, dan kamar mandi dalam biasanya opsional tergantung penyedia kos. Ada juga kamar yang benar-benar kosong fasilitas internalnya sehingga penghuni mengisi sendiri sesuai kebutuhan masing-masing. Kamar mandi dalam memang lebih bersih dan private, tetapi akan butuh waktu dan energi dalam menjaga kebersihannya. Sementara kamar mandi luar, meski tidak terlalu private dan harus keluar kamar saat ingin memakainya, biasanya dibersihkan oleh penjaga kos. Kalau tidak ada penjaga kos, di kos yang mayoritas mahasiswa sering dibuat jadwal piket untuk membersihkan kamar mandi.

Fasilitas eksternal berupa dapur dan ruang tamu. Di dapur tersedia kompor dan sink untuk cuci piring. Biaya gas untuk kompor biasanya patungan dari para penghuni kos atau ada biaya rutin yang disetor ke penjaga kos agar dibelikan gas. Beberapa dapur terdapat kulkas untuk menyimpan makanan dan minuman. Karena kulkas bersama, keamanan barang-barang yang disimpan tergantung sama niat baik dari tiap penghuni sih. Kadang-kadang, ada makanan atau minuman yang hilang sendiri. Ruang tamu bersama bisa hanya kursi dan meja untuk para tamu atau kalau beruntung ada TV untuk para penghuni bersantai menontonnya. Taman dan ruang parkir adalah fasilitas tambahan yang bisa disesuaikan. Saya sendiri menyukai kos yang memiliki taman agar tidak mudah bosan di kos terus. Setidaknya, bisa melihat sesuatu yang asri di sekitar kita. Jika memiliki kendaraan, khususnya mobil, ruang parkir akan jadi pertimbangan utama.

Suasana

Suasana ini mengacu pada kondisi dan situasi kos secara umum. Misalnya, kos dengan tipe rumah suasananya lebih akrab karena ada penghuni bisa lebih mudah berinteraksi. Sementara, kos yang bangunannya seperti kontrakan yang berderet-deret akan membuat penghuninya lebih private dan jarang bersosialisasi. Apalagi jika tak ada fasilitas bersama seperti dapur dan ruang tamu. Biasanya, tipe kos jenis ini cocok untuk pekerja kantoran. Suasana juga bisa dikaitkan dengan nuansa yang ada di keseluruhan bangunan, apakah bangunan tersebut tertutup sisi-sisinya sehingga matahari sulit untuk masuk dan menyebabkan kondisi yang lembap; apakah ada ruang hijau; apakah bangunan keseluruhan bersih dan tidak kumuh; dan hal-hal lainnya yang membuat kita betah untuk berlama-lama tinggal di sana.  

Akses & Lingkungan

Akses dan lingkungan menjadi hal penting untuk dipertimbangkan saat memilih kos. Perhatikan lokasi kos dengan akses seperti dekat ke jalan raya, rumah makan, minimarket, ATM, sampai dekat dengan stasiun atau halte bus. Ada beberapa lingkungan kos yang biasa saya temui, misal area tersebut memang wilayah kos-kosan sehingga bangunan di sekitar kos yang kita tempati memang kos-kosan lainnya. Ada juga yang lingkungan kos berupa perumahan, kampung-kampung, atau bahkan sekelilingnya ruko-ruko atau perkantoran. Jika sering pulang malam, sebaiknya cari kos dengan akses jalan yang mudah dijangkau kendaraan (bisa masuk mobil atau motor), bukan yang ada di gang-gang sempit. Cari juga yang lingkungannya aman seperti akses dengan penerangan yang cukup, terdapat petugas keamanan / satpam, dan mudah minta izin masuk jika aksesnya sudah ditutup portal. Oh iya, hampir lupa. Apakah akses masuk 24 jam atau ada batasan. Biasanya, kos mahasiswa atau kos khusus perempuan memiliki batasan waktu akses sepertiini. Ada yang membatasi jam masuk akhir jam 22.00, 23.00 atau 00.00. Lewat dari batas waktu tersebut, siap-siap panjat pagar ya!  

Biaya sewa

Dari semua hal yang telah menjadi bahan pertimbangan, apakah semua itu sebanding dengan biaya sewanya? Apakah biaya sewa sudah sesuai dengan kemampuan orang tua (jika mahasiswa) atau penghasilan kita? Apakah ada biaya tambahan untuk WiFi, listrik, dan air? Penting untuk membandingkan biaya sewa kos yang satu dengan kos lain di sekitarnya untuk mengetahui kisaran harga di area tersebut. Inilah waktunya menentukan skala prioritas, menganalisis, dan mengukur kemampuan diri.  

Nah, jika kamu mau mencari kamar kos, bisa banget nih cari di aplikasi …. *sinyal hilang*. Tenang, ini bukan tulisan berbayar kok 😜 Hanya berbagi pengalaman aja. Teman-teman punya pengalaman apa nih sewaktu mencari kos? Aspek apa yang jadi pertimbangan utama saat memilih kos? Share pengalamannya yaa!

Sunday, June 6, 2021

Membaca Imperfect

 “Menulis buku ini membuatku harus membuka kembali banyak luka. Tetapi dengan mengakui luka, aku jadi bisa belajar bagaimana mengatasinya. Juga belajar menjadi lebih kuat lagi.” –Meira Anastasia (Imperfect, 2018)

Ini kalimat di bagian belakang buku berjudul Imperfect karya Meira Anastasia. Meira yang merupakan istri dari seorang public figure bernama Ernest Prakasa sering kali mendapat rundungan daring dari warganet terkait rupa dan fisiknya. Tampaknya, warganet menghakimi bagaimana seharusnya pasangan  yang ideal untuk Ernest, yang konon katanya rupawan, sementara itu penampilan Meira yang dianggap “tidak ideal” menjadi amunisi untuk jari-jari bersenjata netizen yang dilepaskan ke kolom-kolom komentar media sosial.

Sebagai orang yang sering kali mendapat rundungan atas apa yang dapat dilihat dari diri, seperti bagian wajah dan postur tubuh, kalimat yang ditulis Meira seakan-akan menyadarkan saya. Luka atas rundungan tersebut perlu untuk dibuka, meski rasanya akan perih dan sakit, untuk kemudian mengatasinya dan menjadi lebih kuat. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membeli buku ini.

Terlahir sebagai bayi besar dan bertumbuh menjadi apa yang orang-orang bilang bongsor. Berpostur gemuk dan tinggi. Beberapa lainnya bilang gendut atau chubby. Anak-anak yang gendut dan chubby mungkin masih diasosiasikan dengan anak yang sehat dan lucu, sementara saat beranjak remaja konotasi kedua kata ini menjadi negatif. Menjadi rundungan yang selalu terngiang-ngiang di kepala. Kalimat-kalimat basa-basi atau memang sengaja dilontarkan, seperti “Kok gemukan?”, “Tambah gendut ya sekarang?”, “Anak cewek kok gendut banget deh?”, “Gemuk gini gimana bisa dapet pacar?”, “Gendut sih makanya jomlo kan sampe sekarang!” dll. Jleb! Rasanya bingung, marah, kesal, sakit hati, stres, campur aduk banget kalau ada orang yang ngomong seperti itu. Entah sanak saudara dekat maupun jauh (dari sepupu sampe om dan tante), teman, bahkan orang asing.

Apalagi jika masih remaja dulu belum diajarkan bagaimana menerima diri sendiri dengan baik, bagaimana merespon omongan orang yang sebenarnya nggak penting-penting amat dan nggak perlu dipikiran juga dimasukkan ke dalam hati, hingga kampanye-kampanye body positivity pada masa itu belum sebanyak sekarang. Tentu omongan negatif seperti itu bertumpuk dan bertumbuh jadi duri dendam yang melukai hati dan pikiran. Omongan seperti ini tidak hilang oleh waktu, ia hanya terpendam saja. Jika sewaktu-waktu ada hal-hal yang memicunya naik ke permukaan, duri-duri tajam itu kembali menghujam hari-hari yang harusnya sudah baik-baik saja. Mungkin, ini yang disebut bagaimana trauma bekerja.  

Efek lainnya adalah menyalahkan diri sendiri atas tubuh yang enggak ideal dan mulai cari-cari cara untuk menurunkan berat badan (yang malah suka bikin badan sakit karena asal-asalan). Setiap menimbang berat badan selalu insecure angkanya naik, lihat kaca enggak bisa lama-lama karena malu sama diri sendiri, enggak percaya diri tampil di kesempatan dan acara apa pun, bersosialisasi dengan teman pun rasanya ragu-ragu enggak akan diterima karena bentuk tubuh yang berbeda, dan berbagai dampak psikis lainnya. Parahnya, sering kali muncul perasaan tidak pantas. Ini yang bikin rundungan sangat beracun alias toxic!

Konstruksi sosial di mana seorang perempuan harus cantik dan langsing menjadi beban dan tuntutan bagi perempuan-perempuan yang tidak memilikinya. Kondisi setiap orang berbeda-beda, baik perempuan maupun laki-laki, dan tidak semestinya dikonstrusikan, dihakimi atau “dipaksakan” sesuai dengan apa yang katanya “ideal”. Kita enggak pernah tahu apa yang menjadi latar belakang seseorang memiliki bentuk tubuh seperti apa. Tidak hanya bentuk tubuh, begitu juga dengan aspek-aspek kehidupan lainnya. Intinya, kurang-kurangi judge orang hanya dari tampilan luarnya.

Buku dengan sub-judul A Journey to Self-Acceptance ini menceritakan perjalanan seorang ibu beranak dua ini berjibaku dengan komentar-komentar warga di dunia maya maupun di dunia nyata yang kerap membuatnya insecure. Menggunakan bahasa percakapan sehari-hari, Meira membeberkan dengan rinci bagaimana ia menghadapi semua itu. Cukup ringan sehingga mudah dipahami. Dilengkapi dengan ilustrasi menarik bergaya sketsa yang mendukung penggambaran tiap tema tulisan sehingga pembaca tidak bosan dengan rangkaian teks. Buku berjumlah 172 halaman ini tidak hanya menceritakan perjalanan Meira mengatasi luka, namun terdapat bonus stiker berisi kutipan-kutipan dan panduan berolahraga yang dapat dilakukan di rumah.

Berikut beberapa kutipan yang menarik dari buku ini:

“Kadang-kadang, kita memang harus jatuh dulu untuk bisa bangkit, berdiri, dan berlari lebih jauh lagi." (hal. 38)

“Intinya: apa pun yang dikatakan atau dilakukan orang kepada kita, jangan terlalu dimasukkan ke hati.” (hal. 39) 
“Ubah insekyur jadi bersyukur.” (hal. 92) 
“Think it over but don’t over think it.” (hal. 102) 
“Ternyata, mengakui dan menerima ketidaksempurnaan malah bisa menjadi obat ampuh, daripada berusaha menyembunyikannya. Ternyata, aku bisa berkembang setelah menerima ketidaksempurnaanku karena aku tahu aku tidak sempurna, dan itu tidak apa-apa, hidup tetap berjalan seperti biasanya.” (hal. 128)

Buku dengan format hardcover warna peach ini bisa mencerahkan siapa pun yang membutuhkan inspirasi untuk menerima kondisi diri di tengan tuntutan netizen dan konstruksi sosial yang telah ada selama ini. Dari buku ini, dapat dipetik pelajaran bahwa semua hal butuh proses, seperti proses menerima dan proses memperbaiki diri. Proses juga butuh waktu dan pengorbanan yang mudah-mudahan memberikan hasil sesuai harapan.

Oh iya, sebagai informasi tambahan, buku ini telah diadaptasi menjadi film berjudul Imperfect: Karier , Cinta, dan Timbangan yang rilis 19 Desember 2019 lalu. Kini, film yang berhasil menarik perhatian 2,6 juta penonton bioskop sudah tersedia di Netflix.  


Informasi buku

Judul: Imperfect

Penulis: Meira Anastasia

Tahun terbit: 2018

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Desain sampul & ilustrasi isi: Janji Studio

Editor: Wedha Stratesti & Claudia Von Nasution

Fotografer: Rahadyan Kukuh

Saturday, March 27, 2021

Membaca Filosofi Teras

Kata filosofi/filsafat selalu jadi momok yang menakutkan. Rasanya, kata ini mengandung kompleksitas yang selalu sulit untuk saya pahami. Bisa jadi akarnya adalah buku tentang dasar-dasar filsafat Yunani semasa SMA yang saya coba baca. Baru sampai halaman pertama, banyak sekali istilah yang tidak saya mengerti. Saya berusaha membaca sampai halaman ketiga dan tidak paham juga hingga akhirnya saya menyerah. Pada waktu itu, KBBI daring sepertinya belum ada. Buku fisik KBBI pun entah di mana karena di saat yang sama, perpustakaan sekolah saya sedang direnovasi. Ruang perpustakaan dialihkan sementara di sebuah ruangan kecil yang menyebabkan buku bertumpuk tak karuan.

Saya juga punya pengalaman tersendiri dengan buku bertema self-help. Pernah saya membeli dan membaca sampai habis sebuah buku self-help bertema remaja, tetapi entah kenapa tidak merasa buku tersebut bermanfaat buat saya. Setelah saya pikir-pikir sekarang, kondisi sosial yang diceritakan penulis sepertinya berbeda dengan kondisi saya pada waktu itu. Saya hanya seorang pelajar yang tumbuh di wilayah pinggiran, bukan kelas menengah yang hidup di wilayah urban.

Dua pengalaman itulah yang menjauhkan saya dari buku-buku bertema filsafat dan self-help. Saya lebih banyak berkutat di buku-buku sastra dan topik-topik yang saya minati lainnya.

Belakangan, isu-isu tentang mental health kian merebak. Membaca buku self-help kian wajar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun di mana punya masalah kesehatan mental dianggap tabu, atau bahkan pengidapnya sering kali dianggap punya gangguan kejiwaan serius.

Berangkat dari situ, saya mulai tergerak untuk membaca artikel-artikel tentang kesehatan mental dan di suatu waktu terpapar dengan buku karya Henry Manampiring ini. Buku tersebut berjudul Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini. Bersampul dominan warna putih dengan ilustrasi yang terbilang jenaka untuk sebuah buku filsafat yang sering kali kaku dan serius. Ditambah nuansa warna kuning yang segar berpadu dengan warna hijau toska di font judul buku.

Judul dan ilustrasi sampulnya memikat siapa saja yang awam terhadap filsafat, termasuk saya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membeli buku tersebut.

Di dunia yang serba gegas ini, kecemasan-kecemasan tidak hanya semakin meningkat, tetapi semakin bervariasi jenisnya. Perasaan insecure dan anxiety seolah jadi makanan sehari-hari. Jika tidak punya cukup bekal mental untuk menghadapinya, berpotensi membuat kondisi kesehatan mental seseorang semakin terpuruk.

Membaca Filosofi Teras menyadarkan saya akan banyak hal. Membedah hal-hal yang selama ini mengacaukan pikiran dalam 320 halaman yang terdiri dari 12 bab. Menggunakan bahasa sederhana—bahkan bisa dibilang bahasa percakapan sehari-hari, dan tentunya dilengkapi dengan ilustrasi dan tata letak yang memikat. Membuat saya melahap buku ini dengan cepat dan sampai harus memperlambat ritme baca agar bisa meresap dengan baik sari-sarinya.

Filosofi Teras atau biasa disebut Stoisisme merupakan filsafat yang praktikal sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aliran filsafat ini diinisiasi oleh Zeno, seorang pedagang kaya yang dari Siprus (sebuah pulau di Selatan Turki) yang dalam perjalanannya mengalami nasib malang. Kapalnya karam dan barang dagangannya musnah. Ia terdampar di Athena tanpa harta. Ia belajar filsafat dari filsuf Crates dan berbagai filsuf lainnya. Selanjutnya, ia mengajar filosofinya sendiri di sebuah teras berpilar, yang dalam bahasa Yunani disebut stoa, yang terletak di sisi utara dari agora (tempat publik yang digunakan untuk berdagang dan berkumpul). (hal. 22)

Henry Manampiring membagi dua tujuan utama yang ingin dicapai dari Stoisisme, yaitu:

  1. Hidup bebas dari emosi negatif dan mendapatkan hidup yang tenteram (tranquil). Ketenteraman ini hanya bisa diperoleh dengan memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa kita kendalikan.
  2. Hidup mengasah kebajikan (virtues). Berikut empat kebajikan utama menurut Stoisisme:
    • Kebijaksanaan (wisdom): kemampuan mengambil keputusan terbaik di dalam situasi apa pun.
    • Keadilan (justice): memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur.
    • Keberanian (courage): keberanian berbuat yang benar, berani berpegang pada prinsip yang benar.
    • Menahan diri (temperance): disiplin, kesederhanaan, kepantasan, dan kontrol diri (atas nafsu dan emosi). (hal 2425).
Bab-bab selanjutnya dalam buku ini membedah lebih detail fenomena-fenomena dalam kehidupan masa kini yang relevan dengan ajaran Stoic. Apa yang bisa kendalikan, bagaimana menyikapi, bagaimana memproses suatu peristiwa, bahkan memproses sebuah peristiwa yang menakutkan bagi umat manusia—kematian. Menarik bukan?

Buku Filosofi Teras ini telah memperluas cakrawala berpikir saya bahwa filsafat tidak melulu sesuatu yang kompleks dan buku self-help tidak selalu tidak akan relevan. Melalui buku ini, saya menjadi banyak belajar mengenal apa yang ada di dalam diri dan bagaimana merespon hal-hal yang terjadi dalam kehidupan.

Apa ada yang sudah pernah membaca buku ini? Bagaimana pendapat kalian tentang buku ini? 

Thursday, February 18, 2021

Sabtu Sore

Sehari sebelum hari kasih sayang
Saya berikan waktu untuk yang tersayang
Yaitu diri saya sendiri

Meluangkan waktu untuk diri sendiri atau biasa disebut quality time. Sabtu sore itu, saya berjalan kaki ke kedai kopi terdekat. Awalnya, ingin pesan daring es kopi susu gula aren terlaris, tapi karena ongkirnya bisa buat segelas kopi lagi membuat saya mencari alternatif yang lain. 

Setelah dipikir-pikir, radius 2 km dari tempat tinggal terdapat beberapa kedai kopi. Sebelum pandemi, beberapa sudah pernah saya kunjungi. Daripada suntuk, saya pun ganti baju dan memakai sepatu. Tidak lupa kardigan, topi, dan masker. Agak repot memang kalau mau bepergian sekarang ini.

Hari cerah dan matahari bersinar seperti pukul tiga. Padahal, jarum panjang menunjukkan pukul lima. Selama berjalan kaki, rasanya seperti berebut ruang dengan para pengendara di jalanan. Rute ke kedai kopi incaran saya tidak ada trotoar.

Sekitar lima belas menit, saya sampai tujuan. Kedai kopi itu berada di kompleks niaga dengan banyak penjaja minuman dan makanan lainnya serta sebuah taman tersembunyi di bagian belakang. Toko kopi sedang sepi. Sepasang suami istri usia 40-an hendak pergi ketika saya datang, di atas ada tiga orang remaja. Di luar dekat bar, hanya ada dua orang. Saya memesan dan minum es kopi susu gula aren segar tersebut di kursi yang menghadap jalan. Area ini kosong, hanya ada saya dan buku yang saya bawa. Kendaraan lalu lalang menjadi pemandangan saya setelah kursi dan meja kosong serta pepohonan rindang di antaranya. Baru saja membuka halaman buku, terdengar hingar bingar musik dangdut. Meski sudah memakai earphone, musik tersebut masih terdengar jelas. Rombongan orkes dador atau dangdut dorong sedang melintas. Ah, pantas saja. 

Saya membiarkan mereka berlalu. Helai dedaunan bergerak-gerak tertiup angin sore. Langit tampak masih biru. Satu dua orang melintas menuju taman. Semua memakai masker. Ini kali pertama saya minum kopi langsung di kedai kopi di tahun ini. Biasanya saat sebelum pandemi, saya ke tempat ini selalu memilih area dalam untuk menghindari asap rokok. Kali ini, berbeda. Sengaja memilih area terbuka yang untungnya sedang sepi pengunjung. 

Saya begitu menikmati membaca kisah kasih monyet bernama O yang dikisahkan oleh Eka Kurniawan. Beberapa lembar terlewati tanpa terasa, hari kian meredup. Saya hendak pulang, namun memutuskan untuk melihat sisi lain di area ini sebentar. Meskipun sudah beberapa kali ke kedai kopi ini, berkeliling ke area lain malah saya belum pernah. Penasaran juga. 

Ada yang menjual tanaman. Makanan Jepang. Minuman campuran susu. Kebab, burger, sampai tahu krispi. Bangunan niaga ini kurang lebih membentuk setengah lingkaran yang mengelilingi sebuah taman kecil. Taman dengan rerumputan hijau beserta beberapa pohon yang di sisi sebrang bangunan. Tampak sebidang tanah yang lebih tinggi dengan sebuah ayunan dengan rangka besi warna merah yang terlihat kokoh. Warna yang membuatnya mencolok di tengah ruang terbuka hijau. Dua kursi ayunan kosong. Saya melihat sekeliling hanya ada dua orang lawan jenis sedang berbincang di taman dan lainnya sedang menikmati makanan atau minuman dari dalam kedai-kedai makanan. 

Ingin hati rasanya main di ayunan tersebut. Agak ragu karena malu dilihat banyak orang, tetapi di sisi lain nggak ada yang kenal saya juga ya di sana? Lagi pula, saya juga pakai masker dan topi. Aman. Tidak ada salahnya bermain ayunan. Nggak cuma anak kecil yang bisa bermain-main dengan ayunan. 

Saya berpikir-pikir kenapa saya ragu untuk mencoba. Ternyata, karena di taman dekat tempat tinggal saja ada ayunan dan beberapa permainan lain yang dikhususkan untuk anak-anak. Padahal, jika sedang mampir ke sana saat berkeliling kompleks, saya ingin sekali mencobanya. 

Akhirnya, saya bisa main ayunan yang mungkin boleh diduduki orang dewasa. Di sekeliling taman tidak ada permainan anak-anak lainnya. Jadi, saya pun memberanikan diri duduk dan pelan-pelan mengayun-ayunkan dirimasih dengan perasaan malu-malu dan takut. Hahaha. Cupu sekali saya ini!

Saya bermain ayunan beberapa menit sembari mendengarkan lagu-lagu dari ponsel. Rasanya nyaman sekali. Pikiran saya melambung ke hari-hari semasa kanak-kanak. Bermain dengan riang gembira tanpa banyak rasa khawatir. Tanpa cemas berlebihan. Benar-benar memetik hari—carpe diem. Perasaan yang sepertinya jarang untuk bisa dirasakan sewaktu dewasa kini. Kebanyakan memikirkan yang lalu dan nanti, dan lupa menikmati yang benar-benar sedang terjadi.

Hari semakin gelap dan saya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk kembali ke tempat tinggal. Maksud hati mau berlama-lama, namun hari sudah terlalu sore. Mungkin, kali lain datang ke sini bisa lebih siang sehingga sehabis minum kopi bisa lanjut main ayunan lebih lama lagi.   

Friday, January 29, 2021

Alasan untuk Tetap Hidup dari Matt Haig


 
Apakah hidup perlu alasan?

Matt Haig mencoba menjawabnya lewat karya Reasons to Stay Alive atau jika diterjemahkan sebagai Alasan untuk Tetap Hidup. Sebuah buku dengan deskripsi "Kisah Nyata Melawan Depresi dan Berdamai dengan Diri Sendiri". 

Ada pernyataan menarik dari penulis mengenai depresi yang sulit dipahami oleh banyak orang karena gejalanya yang samar, tak nyata seperti penyakit fisik yang terlihat dan mudah dideteksi. Pada sebuah halaman di pertengahan buku ia menulis: 

"Sulit menjelaskan depresi kepada orang-orang yang belum pernah mengalaminya.
Rasanya seperti menjelaskan kehidupan di bumi kepada makhluk asing. Tidak ada yang bisa dijadikan titik acuan. Anda terpaksa menggunakan perumpamaan.
Bagai terjebak di terowongan.
Bagai berada di dasar laut.
Bagai terbakar." (hal. 134). 

Buku ini terdiri dari lima bab, yaitu 1) Jatuh, 2) Mendarat, 3) Bangkit, 4) Menjalani Hidup, dan 5) Menjadi Bagian dari Kehidupan. Dalam setiap bab terpecah menjadi tulisan-tulisan pendek yang mudah dibaca, namun berat untuk diresapi. Terlebih jika beberapa bagiannya pernah dialami. 

Membaca bab awal buku ini seperti diajak berjalan-jalan dalam lorong gelap. Langkah yang pelan sekaligus waspada sembari memicingkan mata. Nyala cahaya hanya dari sebuah lilin kecil yang temaram.

Pengalaman kelam diceritakan dengan rinci. Hal-hal yang mungkin bagi orang "normal" dianggap biasa, namun bagi penderita depresi adalah sebuah hal yang butuh keberanian besar. Matt Haig menceritakan bagaimana perjuangannya berbelanja ke sebuah toko dekat rumah. Aktivitas yang sederhana untuk banyak orang tanpa perlu banyak pemikiran. Sementara itu, ia harus berjibaku dengan kecamuk perasaannya saat harus ke luar rumah, dengan ketakutan-ketakutan akan hal-hal buruk yang akan terjadi, kecemasan-kecemasan yang sulit untuk ia atasi pada waktu itu. 

Jumlah penanda yang saya sematkan di buku ini berjumlah tiga puluh. Menjadi buku dengan penanda terbanyak sejauh ini dari buku-buku yang pernah saya baca. Banyak hal-hal yang relevan dan reflektif. Saya terpukau dengan bagaimana Matt Haig menjelaskan depresi dengan cara yang terbilang sederhana. Dengan kata-kata yang sering dipakai, ia menggambarkan kompleksitas penyakit mental ini selapis demi selapis. Pandangan masyarakat yang sering salah kaprah terhadap kondisi ini ia coba luruskan. Beberapa kali ia mengutip data, hasil penelitian, atau tokoh-tokoh untuk mendukung argumentasinya tersebut. 

"Depresi itu misterius, bahkan bagi para penderitanya." (hal 17)

Akan tetapi, depresi juga punya gejala. Andai saja kita tahu lebih awal daftar gejala-gejala depresi, mungkin kita akan lebih mudah mengenalinya. Sayangnya tidak. Gejala depresi sering dianggap hal biasa yang bisa berlalu begitu saja atau dengan menanamkan "pikiran positif" dan hal-hal "motivasional". Ketika tidak ditangani dengan tepat atau malah jauh terlambat, maka akan menyimpan bara yang sewaktu-waktu bisa terbakar hebat. Lebih lanjut di bagian tengah buku ia menjelaskan: 

"Depresi itu penyakit. Tapi, depresi tidak diawali dengan gejala gatal atau batuk-batuk. Depresi sulit terdeteksi karena tidak kasatmata. Meskipun depresi merupakan penyakit serius, cukup sulit bagi penderita untuk mengenali gejala awalnya. Bukan karena depresi itu tidak terasa--tapi karena perasaan tidak enak itu terlalu dikenali, atau biasanya bercampur aduk dengan hal-hal lain." (hal. 94)

Selanjutnya, ia menyebutkan beberapa gejala yang sering muncul pada penderita depresi, seperti kelelahan dalam jangka waktu yang lama tanpa alasan yang jelas, konsep diri yang buruk, "kelambanan psikomotorik", kehilangan selera makan, mudah marah, sering sekali menangis, tiba-tiba menutup diri, dan anhedonia. Istilah yang terakhir rasanya sangat dekat sekali dengan saya. Sering saya rasakan tanpa mengetahui apa namanya. Dipaparkan bahwa anhedonia adalah gejala utama depresi dengan ketidakmampuan total untuk merasakan senang saat melakukan apa saja. Berat rasanya menuliskan hal ini. 

Di halaman lainnya, Matt Haig mengatakan bahwa: 

"Orang bilang kegilaan adalah respons logis untuk dunia yang gila. Mungkin depresi hanyalah respons kehidupan yang tidak benar-benar kita pahami. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami kehidupannya. Depresi sangat mengganggu karena membuat kita tidak bisa berhenti memikirkan kehidupan. Depresi mengubah kita semua menjadi pemikir. Tanya saja Abraham Lincoln." (hal. 173) 

Alasan-alasan untuk hidup yang ia kemukakan berjumlah sepuluh, tiga di antaranya terngiang-ngiang di kepala saya, yaitu nomor 6, 8, dan bagian akhir nomor 10. 

"6. Benak kita memiliki sistem cuaca sendiri. Anda berada di tengan angin topan. Angin topan juga lama-lama akan kehabisan energi. Bertahanlah.

8. Tidak ada yang berlangsung selamanya. Penderitaan ini tidak menetap. Penderitaan berkata ia akan menetap. Itu bohong. Abaikan saja. Penderitaan adalah utang yang akan dibayar dengan waktu. 

10. ... Mungkin Anda akan terperangkap sebentar di sini, tapi dunia tidak akan ke mana-mana. Bertahanlah kalau Anda bisa. Hidup ini selalu layak dipertahankan." (hal. 121-122)." 

Bisa bertahan sejauh ini adalah sebuah pencapaian. Sehari demi sehari adalah sebuah perjuangan tersendiri.

Kalau kamu, apa yang menjadi alasan untuk tetap hidup?


Wednesday, December 9, 2020

Inti

Sadari 
Kenali emosi  
Temukan masalah inti  
'Tuk cari solusi


Pertemuan dengan teman-teman yang usianya seangkatan memang memberikan kesan tersendiri. Nostalgia yang manis, canda tawa yang akrab, dan obrolan yang hangat. Akan tetapi, di balik itu semua ada alam bawah sadar yang menyesatkan ke sebuah labirin bernama inferioritas. 

Berbagi kabar terbaru kehidupan kami masing-masing. Setiap orang dengan ceritanya, dengan jalan hidupnya. Ada yang sudah berpasangan, ada yang akan menikah, ada yang masih sendiri. Ada yang jalan karirnya mulus, ada yang masih meniti pelan-pelan dan pasti, ada yang masih bimbang mau berkarir sebagai apa dan di mana. Ada yang gajinya dua digit, ada yang sudah punya kendaraan pribadi, ada yang sudah berinvestasi, ada yang tidak punya semuanya. 

Dari semua yang disebutkan, bagian akhir kalimat selalu menjadi bagian saya. Mendengar kabar mereka sudah sampai titik tersebut, selain senang muncul rasa sedih. Saya merasa ada di belakang.

Saya pikir sedih itu hanya berlangsung sesaat ketika obrolan berlangsung. 

Dua hari berlalu dari pertemuan tersebut. Perasaan itu masih menggantung dan bercampur dengan kecemasan yang lain. Hari-hari setelah pertemuan terasa berat dan sangat mengganggu. Saya kira ini rasa cemas karena kami bertemu di tengah pandemi begini. Kami memakai masker dan membukanya saat makan dan minum. Meski sudah mematuhi protokol, kuatir tetap ada. Awalnya, saya pikir kekuatiran berlebih dan mengganggu diakibatkan oleh hal tersebut. Ditambah dengan tumpukan pekerjaan yang belum kunjung diselesaikan.

Banyak cara saya lakukan agar lebih tenang. Saya mencoba dengan mandi air hangat, menonton tayangan yang jenaka, mendengar lagu-lagu bernuansa ceria, melakukan praktik teknik pernafasan, mengubah perspektif berpikir hingga butterfly hug. Mood membaik sementara saja, efeknya begitu singkat. Setelah beberapa menit, dada masih berdebar tak karuan. Susah fokus. Pikiran semrawut seperti benang kusut. 

Saya memutuskan untuk melakukan yoga berdasarkan tutorial di Youtube. Video tutorial untuk pemula dengan tujuan mengurangi kecemasan dan depresi ini sudah beberapa kali saya coba. Biasanya, cukup mudah. Tiga puluh menit mulus tanpa jeda. Kali ini terasa begitu berat. Beberapa kali saya berhenti untuk istirahat sebentar. 

Emosi-emosi mengalir sepanjang latihan. Di tengah-tengah, sebuah kesadaran muncul. Saya berhenti cukup lama. Mencoba menelaah kesadaran tersebut, melakukan dialog dengan diri sendiri, berproses untuk memperbaiki apa yang telah mengganggu beberapa hari ini. 

Ternyata yang alasan dominan bukan pandemi atau pekerjaan, melainkan rasa inferior. Pertanyaan-pertanyaan yang menghakimi tanpa mau memahami konteks. Pertanyaan yang saya buat sendiri, bahkan bukan datang dari teman-teman saya. Mempertanyakan kenapa saya masih sendiri, gaji masih segini, dan karir yang belum jelas juntrungannya. 

Saya kemudian teringat kembali bahwa setiap orang punya lintasan waktunya masing-masing. Hal ini yang sering saya lupakan. Membandingkan kondisi hidup tidak akan ada ujungnya. Apalagi jika membandingkan dengan menengok ke atas. Terlalu banyak menengadah hanya akan bikin lelah. 

Setiap orang punya jalan hidupnya sendiri. Di mana dan bagaimana ia lahir dan tumbuh, akan menentukan kehidupannya kelak. Bagaimana kemudian ia berproses, melalui fase yang berbeda-beda. Pengalaman dan pengambilan-pengambilan keputusan setiap kita juga berbeda, bagaimana bisa ingin hasil yang kurang lebih sama? Kenapa harus sama atau "sesuai standar" (standar yang mana)?  

Saat narasi dan pertanyaan ini mencuat, rasa "berat" perlahan-lahan menghilang. Saya melanjutkan yoga sampai selesai. Ada perasaan lebih tenang dan lega. Seketika saya terlelap sehabis latihan. Terbangun dengan perasaan yang lebih baik dan lebih ringan.

Monday, September 21, 2020

Tersadar oleh Sampar

DI ISTANA 

WALIKOTA PERTAMA: Yang Mulia, sampar menyebar sangat cepat sehingga kita tidak punya harapan untuk membasminya. Kontaminasi sudah sangat merebak dibanding yang diperkirakan; namun hamba menyarankan kiranya lebih bijaksana untuk membuat mereka tidak mempedulikannya. Bagaimanapun juga daerah-daerah terpencil  paling parah terkena dampaknya; daerah-daerah ini padat dan dihuni orang-orang miskin. Betapapun tragisnya keadaan ini, ini adalah sesuatu yang patut disyukuri. 

[Gumaman tanda setuju.]

- Albert Camus 

Baris-baris kalimat di atas merupakan cuplikan adegan dan dialog dari drama tiga babak berjudul Sampar. Dipentaskan pertama kali pada 27 Oktober 1948 di Thèâtre Marigny, Paris. L'état de Siège (State of Siege) adalah judul asli lakon yang ditulis oleh filsuf Albert Camus. 

Saya awalnya tidak tahu menahu bahwa buku ini berisi naskah drama. Nama Albert Camus yang sering muncul di beberapa artikel yang saya baca sebelum-sebelumnya membuat saya penasaran dengan tulisan asli beliau. Kebetulan sekali, ada kawan yang meminjamkan Sampar kepada saya sekitar setahun lalu, bersama belasan buku lainnya. Lebih dari sepuluh buku yang dipinjamkan telah saya baca sejak itu sampai sekitar Juli tahun ini. Entah mengapa, Sampar tidak termasuk di sepuluh nomor tersebut. Baru pada penghujung Juli, saya mulai melirik buku setebal 130 halaman ini. 

Pandemi masih berlangsung. Rumah sakit mulai kewalahan menerima pasien, pemakaman khusus korban wabah kian kehabisan lahan. Apa yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi ini? 

Semasa pandemi awal merebak, hari-hari terasa mencekam. Sekarang, setengah tahun berlalu. Waspada tetap ada, namun ketakutan perlahan-lahan mereda. Kemudian, membaca Sampar kembali membangkitkan hawa mencekam itu. 

Sampar menceritakan wabah yang menjangkiti warga Cádiz, Spanyol. Selain digambarkan sebagai sebuah penyakit mematikan yang memberikan tanda, penulis merepresentasikan Sampar sebagai manusia yang mengambil alih kekuasaan pemerintah. Mengubah tatanan masyarakat dengan kehendak yang telah direncanakannya. Menyingkirkan pihak-pihak yang menghalangi perubahan yang diinginkannya. 

Membaca buku ini seperti memutar ulang masa-masa awal wabah menyebar di negeri ini, bahkan di seluruh dunia. Sebuah pandemi yang kini masih harus kita hadapi. Saat membaca, kengerian akibat wabah sampar seolah terasa begitu dekat dan nyata. Respon dan kebijakan pemerintah dalam naskah yang entah bagaimana tampak serupa dengan kondisi saat ini. Sebuah kebetulan. 

Ada banyak adegan dan tuturan yang menampar dengan keras. Reflektif sekaligus satir. Menggedor kesadaran manusia yang carut marut terjangkiti ketakutan. Harapan akan keadaan kembali seperti sedia kala terasa begitu jauh dari kenyataan.

Perlu berjarak saat membaca buku ini supaya tidak terlalu terhanyut, apalagi di tengah pandemi seperti ini. Ia begitu gelap, dan jika tak membawa pelita pikiran yang jernih, berisiko tersesat dalam jalan-jalan yang suram dan muram.

 

Berikut beberapa kutipan pilihan dari buku ini: 

"HAKIM: Biarkan mereka, dan pikirkan saja rumah tangga. Tentang putramu, misalnya. Masukkan semua perbekalan yang dapat diperoleh, dan jangan pikirkan harganya. Kini, sudah saatnya untuk menimbun. Lakukan penimbunan!" (hal. 28) 

"DIEGO: Aku merasa seperti orang-orang, asing terhadap diriku sendiri. Selama ini, aku tidak pernah merasa takut terhadap manusia--namun apa yang terjadi sekarang terlalu besar bagiku. Bahkan kehormatan tidak dapat membantu; aku kehilangan pegangan atas segala sesuatu yang aku anut." (hal. 30)

"SEKRETARIS: Ini dimaksudkan untuk membiasakan mereka dengan sentuhan kekaburan yang memberikan daya tarik dan efektivitas bagi semua peraturan pemerintah. Semakin kurang paham rakyat, akan semakin baik tingkah laku mereka. Kamu paham?" (hal. 39)

"PADUAN SUARA: Penguasa kita dulu berjanji akan melindungi kita, namun sekarang kita ditelantarkan." (hal. 40)

"PADUAN SUARA PEREMPUAN: ... Penderitaan ini lebih berat dari yang dapat kami tanggung, kami hanya dapat menunggu penderitaan ini berakhir." (hal. 83)

"PADUAN SUARA: Ya, namun apakah harapan menunggu kita di ujung jalan? Atau haruskah kita mati karena putus asa di tengah perjalanan? 

DIEGO: Jangan lagi bicara tentang putus asa! Putus asa adalah sumbat. Dan hari ini guntur harapan dan kilat kebahagiaan memecahkan kebisuan kota yang terkurung ini. Berdirilah, kuminta kamu, dan bertindaklah seperti lelaki! Robeklah aktamu, pecahkan jendela-jendela kantor mereka, tinggalkan ketakutan, dan teriakkan kebebasan kalian ke empat arah angin surga!

PADUAN SUARA: Kami kehilangan hak milik rumah kami dan harapan adalah satu-satunya kekayaan kami--bagaimana kami bisa hidup tanpa harapan?" (hal. 96)


Judul: Sampar 

Penulis: Albert Camus

Penerjemah: Ahmad Asnawi

Penerbit: Narasi (bekerja sama dengan Pustaka Promethea)

Friday, August 14, 2020

Kata-Kata Si Beruang Kutub

Kau perlu menjaga pikiranmu tetap waspada dan berupaya membuka hati kepada mereka di sekelilingmu untuk melihat ribuan nuansa yang menyusun dunia manusia yang senantiasa berubah ini.

Semakin aku memikirkan semua ini, semakin aku yakin betapa luar biasanya untuk bisa hidup itu, bahkan di penjara sekalipun, sebab tak seorang pun bisa merampas kapasitas kita untuk melihat, berpikir, dan bermain. 

- Claudio Orrego Vicuña

Pada sebuah sore di tempat kerja, saya ingat betul ketika diminta untuk memeriksa glosarium sebuah buku. Buku yang akan saya periksa berada di rak buku yang bercampur dengan koleksi pribadi atasan saya. Ketika sedang mencari-cari, saya dipertemukan dengan buku berukuran kecil, berhalaman tipis, dan bersampul gambar wajah beruang kutub yang menyiratkan raut muram. Seketika saya tertarik dengan buku kecil tersebut yang berjudul Kenangan-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub. Ditulis oleh Claudio Orrego Vicuña (1939-1982) yang merupakan sosiolog, peneliti sejarah, penulis, dan aktivis mahasiswa serta bertindak sebagai politisi dan anggota parlemen dari Partai Kristen Demokrat Cile semasa hidupnya. Buku ini adalah satu-satunya karya sastra beliau di antara puluhan buku lainnya. 

Setelah mendapatkan buku yang harus saya periksa, saya minta izin kepada atasan untuk meminjam novel setebal 68 halaman ini. Kumpulan kata ini tidak langsung saya baca karena masuk daftar antrian di antara buku-buku lainnya. Setelah datang gilirannya, ia menjadi kawan yang baik selepas pulang kerja. Menemani dengan rangkaian kalimatnya yang mengingatkan dengan caranya sendiri. Bercerita melalui sudut pandang seekor beruang kutub yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di kebun binatang. Bagaimana ia awalnya mempertanyakan jalan hidup yang semestinya bebas merdeka di padang es arktik, namun harus berakhir di sepetak lahan berjeruji untuk menjadi tontonan manusia. 

Betapa penulis begitu piawai menuturkan suara hati beruang kutub dari gerutu hingga menjadi sebuah kontemplasi yang menyadarkan akan banyak hal. Memberikan makna-makna baru pada hal-hal yang kerap terlewatkan. Menjadi sebuah bacaan yang mencerahkan saat-saat pandemi ini, saat banyak dari umat manusia terperangkap situasi tidak bisa ke mana-mana. Ketakutan, kekhawatiran, dan kesepian seolah tak terelakkan. Beruang kutub yang diberi nama Baltazar ini membagikan pemikiran-pemikirannya, tentang hal-hal kecil sampai yang besar dengan begitu sederhana dan penuh ketulusan. 

Buku pinjaman harus dikembalikan dan oleh karena itu saya akan kesulitan jika ingin menengok kembali kalimat-kalimat yang saya suka. Untuk mempermudah, saya tulis di sini bagian-bagian favorit saya.   

"Aku berubah selamanya menjadi makhluk yang kesepian, dikutuk untuk hidup hanya dengan ditemani pikiran dan nostalgia..." (hal. 14)

"Mengapa ada manusia-manusia yang punya apa saja dan manusia lainnya yang tidak punya apa-apa? Mengapa ada wajah-wajah yang mencerminkan kegembiraan hidup, sementara lainnya kelihatan hanya mendambakan perubahan nasib?" (hal. 19)

"Sepertinya perangainya sudah jamak di kalangan manusia yang diberi kekuasaan. Begitu mereka mendapat kuasa, rasa percaya diri mereka muncul lebih dikarenakan oleh kekuasaan ini ketimbang oleh nilai-nilai dalam diri mereka sendiri.
Aku juga berpikir bahwa semakin tidak bahagia manusia, semakin doyan mereka berlagak memamerkan kekuasaan."
(hal. 25)

"Sepertinya pembawaan alamiah kita memang mengharuskan, sesekali dalam suatu waktu, kesempatan untuk bisa sendirian, tanpa merisaukan apa pun, absen dari dunia sekitar kita." (hal. 29).

"Awalnya aku sangat menderita, dan kenangan akan cintaku yang tak kesampaian membuat penangkapanku jadi kian tak tertanggungkan.
Sekarang situasi sudah berbeda. Waktu menghapus segalanya, dan apa yang menjadi hasrat dan nyala hari kemarin, pada hari ini tak lebih dari ketidakpastian apakah itu nyata atau hanya khayalan anak remaja.
Dari apa yang kulihat dan kupelajari aku memupuk kearifan dan kesabaran, dan kini aku mendambakan kebebasan untuk alasan-alasan lainnya. Tak ada lagi yang bersisa dari cinta lamaku, kecuali ingatan peninggalan sang waktu yang membersitkan senyum, serta gambaran indah dari apa yang mungkin terjadi tapi tidak terjadi.
Toh hal-hal indah dalam hidup tetap menyegarkan meski waktu terus berlalu. Semakin jauh, dan semakin mustahil dijangkau, semakin pula melebur ke dalam aura sentimentil atas segala hal dari masa silam kita, suatu kearifan nostalgis tentang kehidupan.
(hal. 37)

Coba pikir, kau jelas bukan cuma mengalami satu perasaan saja dalam sehari. Juga bukan satu suasana hati saja. Hidup, yang mengejawantah dalam setiap momen, tidak membiarkan kita mengelak darinya segampang itu." (hal. 47)

"Aku tidak pernah bilang bahwa aku pasrah berpuas diri dengan kehidupan di balik jeruji. Lagi pula, Tuhan para beruang tidak mencipta kami untuk itu, melainkan untuk menikmati kebebasan tak terbatas es arktik. Kendati demikian, pada akhirnya aku bisa menemukan kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah kusangka akan bisa kutemukan.
Bukan karena aku merasa demikian. Melainkan karena tak seorang pun yang mau berpasrah menyia-nyiakan hidupnya, terlepas dari duka dan tragedi tak terduga yang menimpa jalan hidupnya."
(hal. 54)
 
 
"Untuk menjadi bebas tidaklah cukup dengan hanya bisa bergerak di atas dunia ini atau di antara orang-orangnya. Bebas bergerak hanyalah sarana untuk menemukan makna yang lebih dalam dari hal ihwal. Tapi itu sendiri belum berarti apa-apa.
Kehidupan sehari-hari gelandangan atau turis sama sekali bukan kebebasan. Kebebasan hanya berasal dari pengertian yang lebih dalam atas tanah-tanah baru, realitas-realitas baru dan orang-orang yang baru ditemui.

Itulah yang menjelaskan mengapa meskipun aku dikerangkeng, aku merasa kebebasanku bertumbuh. Memang masih bolong-bolong dan tak sempurna, tapi setiap hari lebih baik dibanding manusia-manusia di sekelilingku."
(hal. 62) 

 

Judul: Kenangan-Kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub 

Penulis: Claudio Orrego Vicuñ

Penerjemah: Ronny Agustinus 

Penerbit: Marjin Kiri

Friday, July 17, 2020

Caturwulan

"Anak-anak sekolah memasuki caturwulan yang baru."
Teks seperti ini mungkin sudah jarang mengemuka dua dekade belakangan.
Saat ini, teks yang beredar adalah:
"Anak-anak sekolah memasuki semester yang baru."
Semester yang benar-benar baru.
Sekolah dari rumah karena musibah wabah yang melanda dunia.

Ada banyak yang terjadi selama satu caturwulan belakangan. Pandemi mengubah semua. Bahkan, kehidupan saya yang biasanya datar-datar saja tanpa dinamika yang berarti, empat bulan ini terbilang memiliki fluktuasi yang tak pernah terduga sebelumnya.

Hal-hal yang terjadi dengan saya dan sekitar saya selama pandemi:
  1. Kamar sewa yang telah tiga tahun saya tempati, untuk pertama kalinya, kebanjiran. Air memenuhi kamar dengan tinggi semata kaki orang dewasa. Semua barang yang di lantai basah. Membutuhkan waktu sehari untuk membersihkan ruangan, tetapi butuh seminggu lebih untuk mencuci dan mengeringkan barang-barang.
  2. Kalang kabut mencari kamar sewa yang baru karena selalu cemas setiap hujan datang.  
  3. Penjual makanan di ujung jalan tempat tinggal dikabarkan berpulang karena kena wabah.
  4. Kecemasan meningkat berkali-kali lipat karena tragedi-tragedi tersebut yang berakibat pada semakin giat mencari hunian yang baru.
  5. Ibu saya terpeleset di gang depan rumah dan tangannya patah. Beberapa waktu setelahnya, ayah saya demam. Saya khawatir, tetapi situasi tidak memungkinkan untuk ke rumah.  
  6. Kesulitan mendapat hunian baru yang sesuai ekspektasi. Kegelisahan saya enggan pergi. Sembari mencari yang pas, saya sempat menyewa kamar sementara di dekat kantor. Upaya ini dilakukan agar tidak terus terbebani oleh pikiran yang merongrong jika tetap tinggal di tempat yang lama. Hanya membawa beberapa barang penting saja.
  7. Mulai merawat tanaman hias dengan media tanam air. Kebetulan, kamar sewa saya yang lama memiliki banyak tanaman hias sehingga saya izin kepada pemilik untuk meminta beberapa bibitnya. Aktivitas ini cukup efektif mengurangi ketegangan.
  8. Saat sedang mencicipi granola yang campurannya terdiri dari kacang mete dan/atau almon, mendadak saya sesak nafas untuk beberapa waktu. Sepertinya, ada perubahan pada reaksi tubuh saat mengonsumsi salah satu jenis kacang tersebut. Sebelum-sebelumnya, tidak pernah alergi memakan kacang-kacang tersebut. Sempat dirundung resah karena gejala yang muncul menyerupai gejala penyakit yang berkembang di situasi seperti ini.
  9. Radius mobilitas saya hanya sekitar lima kilometer sejak pandemi. Berkisar pada tempat tinggal, swalayan, dan tempat kerja. Selain kolega kantor, saya tidak pernah bertemu dengan kawan maupun keluarga.
  10. Akhirnya, saya benar-benar pindah tempat tinggal menjadi lebih dekat dengan kantor. Proses pindahan menggunakan jasa angkut yang dipesan lewat aplikasi berlangsung tidak sampai dua jam. Padahal, berkemas semua barang sendirian memakan waktu berhari-hari. Sangat menguras emosi dan fisik sekaligus.
  11. Bunga yang bertahun-tahun saya ketahui berjenis lily, ternyata jenis sebenarnya adalah amarilis, berbunga dengan cantiknya di halaman kamar saya. Memberikan makna baru pada hari-hari yang pelik ini. Insiden berkembangnya bunga ini terbilang langka karena terakhir mekar sekitar dua tahun yang lalu.
Kejadian-kejadian ini membuat emosi saya bergejolak. Marah bergolak tanpa henti. Risau yang tak kunjung pergi. Sedih merundung hari. Ketakutan mencengkeram seperti cakar harimau lapar mengoyak mangsa. Sementara, bahagia hanya datang sesekali untuk merangkul dan memberi kehangatan di tengah musim yang mencekam.

Ada saat di mana saya mencuci tangan terlalu sering sampai lapisan kulit menjadi kering. Ada saat di mana keresahan berlebihan meliputi sampai tidak berkenan bertemu dengan siapapun. Ada saat di mana saya benar-benar sulit mengendalikannya, makan pun jadi kurang berselera, apalagi menjalani kewajiban kerja. Ada saat di mana saya membutuhkan waktu berjam-jam untuk dapat tertidur dengan nyenyak. Ada saat di mana saya bangun dengan kepala yang berat, berat untuk memulai hari.  Ada saat di mana saya hampir menyerah dengan diri saya sendiri.

Inilah nasib hidup berkawan kesepian di rimba ibukota yang tengah paceklik. Mustahil sepertinya mengandalkan teman dengan kondisi yang sama-sama sedang sukar. Hubungan yang terjalin kadang hanya berupa kerja-kerja formal sehingga sungkan untuk meminta bantuan. Atau mungkin saja, saya yang sebenarnya tak punya apa yang orang-orang sebut sebagai teman?

Melihat kembali di sendiri pada saat ini, masih dapat merangkai kata-kata ini, saya cukup bangga dengan diri saya yang sedapat mungkin telah bersusah payah, berjibaku, dan jungkir balik mengelola emosi sehingga masih bertahan dalam melewati hari-hari di tengah pandemi.  

Mungkin, yang bisa dilakukan ya bertahan dari hari ke hari. Mencemaskan masa depan dengan kekhawatiran berlebihan hanya akan mencederai detik-detik yang berharga. Detik-detik yang selayaknya dipetik dengan cermat untuk kemudian kita satukan dalam satuan waktu bernama hari. Carpe diem.

Vaksin terus diuji coba dengan berlapis tahapan
Entah butuh berapa caturwulan sampai benar-benar siap diedarkan
Sementara menunggu, yang kita bisa lakukan adalah sebaik-baiknya bertahan
Semoga umat manusia masih bisa menggantungkan harapan pada keajaiban

Sunday, July 12, 2020

Jalan Kaki

Saat pandemi, sebuah aktivitas yang biasa berubah jadi teramat berat untuk dimulai
Sekadar berjalan kaki, bahkan membutuhkan pertimbangan berhari-hari

Saya sering berjalan kaki saat ingin membeli suatu barang, berangkat ke kedai kopi, atau sepulangnya dari sana. Biasanya, sengaja saya lakukan di sore hari.

Berjalan kaki memberi kesenangan tersendiri. Apalagi jika dilakukan saat petang dengan semilir angin yang sejuk berbalut langit yang teduh. Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan semburat oranye menghiasi cakrawala dengan begitu indah sembari mendengarkan musik kesukaan yang mengalun di telinga.

Aktivitas warga di sore hari memancarkan aura yang lebih positif daripada kegiatan di pagi hari, yang seringnya tergesa-gesa, atau siang hari yang identik dengan terik yang memantik emosi.
 
Kebiasaan berjalan kaki ini sirna sejak pandemi. Ketakutan mencengkeram sehingga mengurung saya untuk tidak berlama-lama berada di luar rumah. Padahal, saya hampir setiap minggu saya menyempatkan diri berjalan kaki sekitar satu jam dan bisa mencapai dua jam jika dibarengi dengan berbelanja banyak keperluan.

Sejak pandemi, saya berada di luar rumah hanya dalam perjalanan menuju ke kantor yang menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit saja. Kantor saya memberikan fasilitas jemput-antar pegawai untuk menjaga keamanan dan kesehatan bersama. Kantor saya memiliki protokol yang cukup ketat sehingga rasanya aman berada di tempat kerja. Saat harus berbelanja, saya akan minta mampir sebentar sewaktu perjalanan berangkat atau pulang kerja. Pernah sesekali mencoba berbelanja di swalayan dekat tempat tinggal saya yang lama, yang jaraknya sekitar lima menit berjalan kaki, setiap langkah terasa berat dan mencekam.

Tepat satu caturwulan, saya tidak berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh dan rentang waktu yang cukup lama. Dalam periode tersebut, saya pindah tempat tinggal dan telah menempatinya sekitar 1,5 bulan. Jarak tempat tinggal dan kantor lebih dekat sehingga sangat bisa dicapai dengan bersepeda atau berjalan kaki. Saya juga menghentikan fasilitas jemput-antar kantor agar bisa melakukan aktivitas menyehatkan tersebut.

Saya pernah coba mengayuh sepeda ke tempat kerja. Jalur menuju kantor yang searah mengharuskan saya melewati pasar yang ramai. Setiap melewati pasar yang ramai akan manusia dan kendaraan, jantung saya berdegup kencang. Takut-takut kalau ada yang tiba-tiba batuk atau bersin di dekat saya. Meski sudah menggunakan helm sepeda dan masker, rasa cemas itu tetap menghantui. Untuk mengatasi hal tersebut, saya akhirnya menggunakan jasa transportasi roda empat yang dipesan lewat aplikasi. Memang biayanya jadi mahal, tetapi hati saya lebih tenang. Bersepeda ke kantor akhirnya hanya satu atau dua kali dalam seminggu.

Setelah sebulan lebih bolak-balik mengeluarkan biaya sendiri untuk transportasi, hitung-hitung biayanya jadi terasa membebani. Saya mulai terpikir untuk berjalan kaki. Jika berjalan kaki, bisa lawan arah dari jalur yang biasa sehingga tidak perlu melewati hiruk pikuk pasar. Mau dimulai sejak awal Juli, hanya saja niat ini selalu diganggu oleh ragu-ragu. Takut ini dan takut itu. Bagaimana jika begini, bagaimana jika begitu.

Sempat terbersit keinginan untuk membeli pelindung wajah terlebih dahulu supaya pikiran dan hati lebih sentosa. Setelah menimbang-nimbang, saya menampik keinginan tersebut. Ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol di jalanan. Jika terus memikirkan hal negatif terus, saya tidak akan memulai prosesi berjalan kaki ini. Kegiatan yang dulu bisa sesuka hati saya lakukan, kapan saja dan di mana saja, sekarang harus dipikirkan matang-matang seperti ingin bertempur ke medan perang.

Kamis lalu sepulang kerja, saya hendak meluncurkan niat berjalan kaki. Hari sudah gelap dan saya memakai sepatu sandal yang kurang nyaman untuk berjalan jauh. Kebetulan sekali, rekan kerja saya yang searah menawarkan tumpangan. Niat berjalan kaki pun tertunda.

Esoknya, saya lebih bersiap dan memberanikan diri. Sepatu kets merah yang sudah empat bulan menganggur, kini bisa terpakai. Sepatu yang nyaman, membuat kaki tidak cepat lelah. Saya memakai baju lengan panjang yang memiliki tudung kepala, ditambah topi hitam, celana panjang, dan pastinya masker. Hand sanitizer disimpan di saku tas yang mudah dijangkau.

Saya berangkat agak siang menjelang Jumatan. Langit teduh dan matahari bersinar ramah. Saya memasang peranti dengar di telinga dan menyetel musik favorit untuk menemani sepanjang perjalanan. Rute menuju kantor terbilang sepi. Sesekali saya berpapasan dengan orang lain, masih takut sebenarnya akan hal ini. Namun, kondisi yang sepi cukup menguntungkan karena saya bisa dengan mudah mengatur jarak dengan orang lain.

Sebelum sampai masjid dekat kantor, saya melihat sebuah tenda kecil dengan dua orang di tepi jalan. Ada bapak-bapak sedang membagi-bagikan makanan. Seorang diantaranya memegang sebuah kertas bertuliskan "OJEG", seorang lainnya bersiap dengan plastik berisi sekotak makan siang. Sebuah angkot mendekati kedua orang tersebut. Sopir angkot disambut senyuman yang tulus dan dengan sigap disuguhkan makanan tersebut. Tidak lama kemudian, datang pengemudi ojek online, keduanya melakukan hal yang sama. Saat saya melewati tenda tersebut, saya kaget karena mereka menawarkan makan siang tersebut kepada saya. Saya menolak dengan halus dan melanjutkan perjalanan.

Seketika saya teringat aktivitas membagikan makanan di pinggir jalan yang ramai di awal pandemi. Beberapa kali saya lihat langsung, saat proses pembagian makanan selalu ada bagian dokumentasi yang sibuk mengabadikan kegiatan tersebut. Mungkin, hal itu dilakukan sebagai laporan kegiatan atau ada tujuan lainnya.

Melihat kedua bapak ini membagikan makanan dengan tulus, hati saya langsung terenyuh. Tak ada petugas dokumentasi yang merekam kebaikan mereka, namun ada banyak saksi yang bahagia melihat kebaikan ini, apalagi yang berkesempatan menerimanya. Masih ada orang-orang yang melakukan hal baik tanpa pamrih.

Aksi berjalan kaki berlangsung hampir setengah jam, terbilang lancar dan cukup berkeringat. Haus menjalar di kerongkongan. Setelah meletakkan tas, saya langsung ambil gelas untuk melepas dahaga. Efek lama tak berolahraga membuat kaki terasa pegal, tetapi tak apa, namanya juga baru pertama setelah berbulan-bulan.

Melalui aktivitas berjalan kaki ini, saya jadi belajar bahwa cemas jangan dijadikan penghalang untuk melakukan sesuatu, tetapi ia bisa diatasi dengan melakukan persiapan yang baik dan tetap waspada. Saya bahagia bisa menghempaskan rasa cemas berlebihan ini dan menghadapinya dengan baik.

Friday, July 10, 2020

Transaksi

Kadang, hubungan saudara hanya sebuah predikat
Bukan sebuah koneksi yang terhubung erat

Rasa kesal dan kecewa menggantung beberapa hari belakangan. Sebuah komunikasi, dengan tujuan transaksi dengan salah satu saudara yang berniaga, sukses membuat saya meradang.

Ia adalah salah satu saudara dari keluarga besar. Kami sebaya dan sama-sama perempuan sehingga cukup dekat semasa sekolah karena tinggal dalam satu wilayah. Beda kota saat berkuliah membuat kami agak jauh. Akan tetapi, komunikasi kami biasanya hangat. Saling bertukar kabar dan bercerita tentang banyak hal saat ada kesempatan berbincang, baik di dunia nyata maupun dunia maya. 

Sekarang, ia sudah menikah dan punya anak. Sudah cukup lama berjualan apa saja secara daring. Kebanyakan perabotan rumah tangga. Baru-baru ini, ia mulai menjual produk perawatan wajah.

Sejak ada fitur story di WhatsApp, saya jadi sering melihat statusnya yang kebanyakan promosi produk-produk yang dijual. Penghujung tahun lalu, saya berminat pada barang yang dipasarkan, panci antilengket dan aksesori telepon genggam. Responnya masih ramah dan cukup baik. Saya hanya membeli barang yang pertama karena yang kedua stoknya sedang habis.

Beberapa bulan setelah itu, saya berminat lagi pada pengeras suara portabel. Iklannya menunjukkan sebuah merk terkenal dengan harga cukup miring. Saya pun memastikan produk tersebut ternyata merk yang dijual berbeda dengan yang diiklankan. Saya akhirnya tidak jadi beli.

Ada suatu hal dari dirinya yang menyebabkan hubungan kami kian renggang. Di suatu waktu di tahun ini, ia dengan lancang memasukan saya ke grup WhatsApp keluarga besar. Sesuatu yang amat saya hindari sejak dulu. Ia memicu amarah saya karena tidak bertanya dahulu apakah saya mau bergabung atau tidak di kelompok percakapan daring tersebut. Segera saya keluar sebelum banyak yang menyadari saya masuk di sana. Langsung saya sampaikan betapa sebalnya saya akan hal ini lalu dia minta maaf.

Hubungan saudara, saya pikir, wajar jika ada perselisihan. Pada akhirnya, akan kembali lagi karena mau tidak mau suatu saat akan bertemu entah kapan dan entah dalam acara keluarga seperti apa.

Sebaran wabah yang tak kunjung mereda mendorong saya untuk menjaga diri dan keluarga. Kebetulan sekali, ia menjual pelindung wajah dengan model yang saya incar. Sehari setelah ia mempromosikan produknya, saya bilang bahwa saya berminat. Sesaat menjelang makan siang, saya menanyakan stok barang tersebut dan apakah bisa diantar langsung ke rumah keluarga saya. Rumahnya dan rumah keluarga saya bisa dibilang berdekatan. Namun, ia mengatakan kalau harus membawa anaknya yang masih kecil, ia tidak berani. Baiklah, pakai jasa antar ojek daring saja.

Saya menduga ketika sudah membicarakan proses pengiriman, barang sudah siap diantar. Eh ternyata, dia masih belum bisa memastikan barangnya ada atau tidak. Informasi terkait stok barang tersebut baru akan ada sore harinya. Baiklah, akan saya tunggu.

Sore harinya, ia mengabarkan bahwa stok barang tersebut habis dan menawarkan barang serupa dengan model yang berbeda. Saya tidak suka dengan model yang ia tawarkan. Namun, dia agak memaksa untuk membeli model tersebut dan malah bikin saya makin sebal. Saya bersikukuh hanya mau membeli model yang saya inginkan. Dengan masih beritikad baik, saya minta dikabari jika model yang saya mau sudah ada stoknya.

Esok paginya, ia menelepon dan mengirim pesan. Kemudian, ia menelepon sekali lagi. Saya dalam keadaan sedang senewen karena kamar sewa saya harus diperbaiki saluran airnya secara mendadak sepagi itu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pihak pengelola kamar sewa juga melakukan aksi gedor-gedor pintu yang sangat mengganggu kenyamanan. Mungkin, ia menghubungi di saat yang tidak tepat juga. Saya mengabaikan teleponnya dan baru membalas pesannya setengah jam kemudian, memberitahukan bahwa saya sudah membeli barang tersebut dari orang lain.

Sesaat setelah ia mengabarkan stok barang habis dan memaksa membeli model lain, saya segera tersadar sesuatu. Biasanya, ketika hendak membeli suatu barang di toko dan barangnya habis, penjual akan meminta maaf terlebih dahulu kepada calon pembeli dan baru kemudian menawarkan alternatif yang lain. Sementara, saudara saya ini tidak meminta maaf sama sekali, yang ada malah memaksa. Setelah kejadian sore itu, saya menelusuri percakapan terkait transaksi-transaksi kami berbulan-bulan sebelumnya. Saya mendapati ia tidak pernah minta maaf saat stok barang yang saya inginkan sedang habis, ia juga tidak minta maaf karena saya telah menunggu lama.

Benar memang apa yang tertulis di kutipan-kutipan yang beredar, yang sulit itu mengucapkan maaf, tolong, dan terima kasih. Kata maaf berada di urutan pertama, mungkin karena kata itu menjadi kata dengan tingkat kesulitan tertinggi untuk diucapkan. 

Responnya yang demikian membuat saya kapok berbelanja barang-barang jualannya. Selain itu, saya mengingat panci antilengket yang pernah saya beli darinya, baru beberapa kali dipakai sudah rusak permukaannya. Bagaimana saya tidak semakin kecewa?

Malam setelah percakapan tersebut berlangsung, saya bergegas mencari barang serupa di sebuah lokapasar daring. Menelusuri rupa-rupa model pelindung wajah sembari membaca ulasan para pembeli, saya menemukan sebuah toko yang terpercaya. Langsung saya beli dua untuk bapak dan ibu di rumah. Gratis ongkos kirim ditambah harganya juga lebih murah. Selang dua hari, ibu saya mengabari kalau barang sudah sampai di kediaman. Praktis tanpa harus melewati percakapan bertele-tele dan menjengkelkan.

Jika kejadian dengannya terjadi di lokapasar daring, mungkin saya sudah mencak-mencak di kolom ulasan penjual dan memberikan bintang satu. Yang bisa saya lakukan hanya menumpahkan keluh kesah belasan alinea, mencapai 700-an kata, di halaman ini.

Setidaknya, hati saya sekarang sudah lebih plong!

Tuesday, July 7, 2020

Tania

Burung boleh berkicau merdu
Angin dan daun berpadu mencipta bunyi yang syahdu
Namun, jika tiada tawa anak gadis itu, semua terasa kelabu

Sekitar sebulan, saya menempati kamar sewa yang baru. Kamarnya cukup besar sehingga beberapa kamar ditempati oleh pasangan dan keluarga muda dengan anak-anak kecil yang sedang gemas-gemasnya.

Sebelah kanan kamar saya, ditinggali oleh keluarga muda dengan dua anak. Satu anak laki-laki berusia antara 4-5 tahun yang sepertinya menjadi si kakak dan si adik yang kira-kira berusia tiga tahun. Terdengar oleh saya bahwa si adik dipanggil dengan nama Tania. Sementara itu, si kakak jarang tersebut namanya. Lebih sering dipanggil dengan sebutan "Kakak" saja.

Kamar kami yang bersebelahan membuat telinga saya menangkap celoteh anak-anak saat mereka meminta sesuatu ke orang tuanya. Ada yang minta makan, minta uang jajan, atau meminta mainan.

Setiap bangun pagi dan sepulang kerja, suara kedua anak ini beserta teman-teman sebayanya menjadi pengisi hari-hari saya yang sunyi. Adapun suara yang dihasilkan dari kamar saya hanya bersumber dari gawai yang memutar lagu atau siniar. Senang rasanya mendengar ada derap langkah balita-balita ini yang terasa begitu ringan sekaligus riang. Tanpa beban. Tanpa terpikirkan cicilan dan masa depan.

Pernah beberapa kali saat saya sedang merawat tanaman, Tania yang kebetulan lewat memperhatikan saya. Saya pun tersenyum kepadanya. Dia membalas dengan senyum tipis. Ingin rasanya berkenalan, tapi saya mengurungkan niat itu. Dikarenakan barang-barang di kamar belum tertata dengan rapi. Saya takut nantinya ia akan sering main ke kamar saya yang masih berantakan. Selain malu, saya khawatir kamar semakin porak poranda.  

Tetangga kecil berambut hitam dengan poni dan berkulit putih bersih seolah ragu sewaktu ingin melangkah di depan kamar saya. Tania sering tampak bingung melihat tetangga barunya ini berkutat dengan tanaman hias di depan kamar. Mungkin, dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang dilakukan manusia ini yang dari tadi hanya mengangkat pot-pot tanaman sambil sesekali berbicara sendiri.

Belum genap sebulan saya bermukim di sini, pekik riang anak-anak ini tidak lagi terdengar. Ada kemungkinan mereka sedang menginap di rumah neneknya yang beberapa kali datang berkunjung. Nenek mereka pernah mengajak ngobrol ketika awal-awal saya pindahan. Ibu paruh baya ini yang memulai duluan dan selanjutnya menjelaskan perihal kamar sewa tanpa diminta.

Di depan kamar tetangga beranak dua ini, biasanya diparkir sepeda roda tiga. Atau beberapa mainan warna-warni yang saya tak ingat betul nama dan bentuknya. Ada yang mencurigakan. Sepeda maupun mainan itu tidak bertengger lagi di sana.

Berhari-hari kamar sebelah hening. Kamar-kamar lainnya memang sejak awal tidak terlalu terdengar aktivitasnya di luar pintu. Berbeda dengan kakak beradik yang hobi bolak-balik di lorong. Melangkah dengan ceria, berteriak dengan lantang, atau merengek jika kemauannya tak dituruti. Kadang-kadang, terdengar suara ibu mereka yang menegur apabila salah satu dari anak-anaknya ada yang berulah. Suara-suara itu kini lenyap berubah jadi senyap.

Selang seminggu dari keheningan itu, saya mendapati kamar mereka terbuka lebar. Lengang. Tiada penghuni. Tiada perlengkapan rumah tangga. Hanya ada perkakas fasilitas kamar sewa seperti kasur dan lemari yang tertinggal. Benar firasat saya selama ini. Mereka pindah. Entah ke mana.

Hari-hari saya kembali berkawan sepi.

Sunday, July 5, 2020

Visitasi

Bagaimana rasanya berbulan-bulan melewati jalur yang sama?
Bagaimana rasanya berbulan-bulan hanya ada tiga tempat yang selalu dikunjungi?
Bagaimana rasanya berbulan-bulan menjalani ritme hidup yang begitu-begitu saja?

Sejak Maret, tingkat kewaspadaan meningkat beribu-ribu kali lipat. Kecemasan menggerogoti hari-hari, menghisap jam tidur, menguras energi. Perlahan-lahan kecemasan menurun, namun tetap dalam mode siaga. Tetap memakai masker, tetap mencuci tangan sehabis memegang apapun, tetap mengantongi botol hand sanitizer, tetap menjaga jarak dengan orang lain, baik yang dikenal apalagi dengan orang asing.

Sejak negara tempat saya berpijak mengumumkan bahwa negeri ini dilanda pandemi, saya tidak berani ke mana-mana. Awalnya, bekerja juga dilakukan dari tempat sendiri. Akan tetapi, lama kelamaan kesendirian ini malah membuat dosis kekhawatiran kian meninggi. Kebetulan, kantor tempat saya bekerja memang memiliki sedikit karyawan dan kami bekerja di ruangan berbeda. Saya akhirnya ditawarkan untuk masuk kantor dengan mendapat fasilitas jemput antar untuk menjaga keamanan dan kesehatan bersama. Protokol kesehatan di kantor juga ketat, seperti wajib cuci tangan sebelum masuk kantor, setiap ada barang masuk disemprot disinfektan, uang kertas juga diperlakukan demikian, hand sanitizer di berbagai sudut, dan wajib pakai masker. Saya malah merasa aman berada di tempat kerja.

Tempat tinggal ke tempat kerja, dan dalam seminggu sekitar satu dua kali ke minimarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Beberapa minggu awal pandemi, saya selalu masak sendiri. Saya sampai tidak berani untuk memesan makanan lewat layanan aplikasi. Saya separanoid itu. Sekitar sebulan setelah mendapat masukan untuk mengecek lewat media sosial apakah tempat makan yang akan saya pesan melaksanakan protokol kesehatan, barulah saya berani memesan makanan dari restoran yang terpercaya. Saya sudah tidak pernah jajan di pinggir jalan.

Selama empat bulan ini, rute saya hanya tempat tinggal - tempat kerja - swalayan dengan radius kurang dari lima kilometer. Berulang terus seperti itu. Saya tidak berani naik kendaraan umum, tidak berani ke tempat teman apalagi ke tempat umum lainnya. Riwayat sakit pernafasan di masa lalu membuat saya rentan dan dicengkeram ketakutan.

Tempat saya bekerja memiliki kantor cabang yang berlokasi di Tangerang. Sejak pertama masuk kerja, saya belum pernah berkunjung ke sana. Padahal, jaraknya hanya berkisar tiga puluh menit saja dari kantor utama.

Jumat pekan lalu, saya berkesempatan melakukan visitasi. Perjalanan dilakukan dengan kendaraan roda dua. Meski memakai helm dan masker, saya masih bisa merasakan semilir angin yang sejuk di perjalanan. Melihat suasana baru yang berbeda dari pemandangan sehari-hari. Menyaksikan pedagang yang dengan sabar menunggu pelanggan, anak-anak kecil yang bermain sepeda dengan riang dan tawa, rimbunan pohon di sisi-sisi jalan, mengagumi aristektur hunian saat melewati sebuah kompleks villa, dan mengagumi langit biru lengkap dengan gumpalan awan putih yang mengiringi kami sepanjang perjalanan. Hati saya senang sekali bisa mengalami suasana yang berbeda dari biasanya.

Setiap detik perjalanan begitu saya resapi baik-baik. Sebuah perjalanan singkat di luar rutinitas harian saya. Memberikan nuansa baru di hati dan pikiran. Rasanya, seperti ke luar dari kepenatan yang menumpuk tidak karuan. Tidak menyangka dengan melakukan kunjungan kerja ini telah membuat saya bahagia. Mungkin, bahagia memang sesederhana ini.